Puisi: Kemah Berdiri Harapan

 

Ilustrasi Berkemah di Lembah Gunung


Lembah sunyi, kita dirikan kemah
Dari untaian benang rindu dan tongkat-tongkat harap
Bertiup angin malam menjahit tirai langit
Bintang-bintang benderang berbisik hangat

Kau adalah api penghangat di tengah dingin
Tak pernah padam, hanya menyala dengan pelan
Aku adalah kayu, tiba-tiba terbakar dalam diam
Hangatmu membuka senyum tanpa suara, tanpa syarat

Tenda itu bukan sekadar seikat tali dan selembar kain
Ia pergerakan ruang-ruang waktu
Tempat berteduh, bersandar pada sunyi
Dan saling mendengar detak jantung tak terucap

Kita bukan penjelajah biasa
Melainkan pengelana sejarah membentuk peta
Menyusuri lembah pilu, mendaki bukit tawa
Hingga menemukan lembutnya keindahan alam

Di saat hujan turun seperti doa
Jejak kekasih membekas di jiwa
Meski badai datang tanpa permisi dan malam menua
Kemah ini rumah, selama kita di perjalanan waktu

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Puisi: Kemah Berdiri Harapan"

close