Puisi: Pintu Tak Terbuka

 




Kota-kota megah penuh bangunan indah
Pintu-pintu kantor berdiri rapat
Bagai bibir enggan membuka mulut
Sekedar menyapa para pelajar membawa kecerahan

Pabrik-pabrik diam
Mesin kembali tidur dalam debu
Asap tak lagi menuju angkasa
Buruh-buruh jadi bayangan

Dinas-dinas sunyi, meja-meja penuh berkas
Tapi tak ada hamparan kursi
Formasi tak ada di pengumuman
Tak berubah hari-hari kemarin

Guru-guru muda menunggu panggilan itu
Bagai padi menanti rintik-rintik hujan
Sementara ruang kelas tak terurus
Dan anak-anak bertumbuh tanpa pelita

Perawat dan bidan berjalan jauh
Meninggalkan negeri tak memberi kesempatan
Rumah sakit hanya membuka gerbang
Bagi punya pengalaman lama

Petani tak lagi punya lahan
Nelayan tak punya dermaga
Para sarjana pendidikan tak dihiraukan
Mereka berjuang dengan usaha kecil-kecilan

Bukan tentang malas
Tapi pintu-pintu berlapis kaca tak lagi berbunyi
Kunci-kunci kebenaran hilang
Di saku-saku kebijakan yang sulit

Mereka tetap berdiri
Tangan tak lelah mengetuk
Harapan dan usaha menjadi pekerjaan
Merintis dari bibit hingga panen memukau

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Puisi: Pintu Tak Terbuka"

close