Puisi: Mata Pencaharian
![]() |
| Ilustrasi Menoreh Batang |
Terdengar nyanyian bersahutan di ladang basah
Embun pagi memasuki ruang sawah
Angin meniupkan kelembutan dan tabah
Mereka bangun sebelum menyingsing fajar
Menyusuri jalanan dengan kaki ringan
Menyemai harap di lumpur rindu
Bersiap musim menaburkan benih tanaman
Di sela rimbun karet, tetesan getah berguguran
Tangan-tangan renta menoreh batang
Perlahan dan kesabaran menjadi satu
Hidup berjalan membawa cerita bersinar
Kemiri gugur dari langit hijau
Bagai bintang kecil jatuh merindu bumi
Dipungut jari jemari cekatan
Disimpan di wadah harapan
Kayu-kayu rotan bicara lewat tangan
Menjadi bakul, kursi dan mimpi
Dari hutan belantara menuju rumah seni
Dari kerajinan lahir cinta luhur
Desa terpencil, gunung terhampar indah
Hidup bukan hanya bertahan, tapi memberi manfaat
Alam sahabat, alam guru
Mereka menulis kisah menjunjung kelestarian alam


0 Response to "Puisi: Mata Pencaharian"
Post a Comment