Puisi: Mata Pencaharian

 

Ilustrasi Menoreh Batang


Gunung berdiri kokoh
Terdengar nyanyian bersahutan di ladang basah
Embun pagi memasuki ruang sawah
Angin meniupkan kelembutan dan tabah

Mereka bangun sebelum menyingsing fajar
Menyusuri jalanan dengan kaki ringan
Menyemai harap di lumpur rindu
Bersiap musim menaburkan benih tanaman

Di sela rimbun karet, tetesan getah berguguran
Tangan-tangan renta menoreh batang
Perlahan dan kesabaran menjadi satu
Hidup berjalan membawa cerita bersinar

Kemiri gugur dari langit hijau
Bagai bintang kecil jatuh merindu bumi
Dipungut jari jemari cekatan
Disimpan di wadah harapan

Kayu-kayu rotan bicara lewat tangan
Menjadi bakul, kursi dan mimpi
Dari hutan belantara menuju rumah seni
Dari kerajinan lahir cinta luhur

Desa terpencil, gunung terhampar indah
Hidup bukan hanya bertahan, tapi memberi manfaat
Alam sahabat, alam guru
Mereka menulis kisah menjunjung kelestarian alam

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Puisi: Mata Pencaharian"

close