Puisi: Patah di Pulau Sejarah

 

Ilustrasi Wanita Memakai Payung


Di lembah-lembah sunyi
Air ketenangan mengamuk, tanah pun runtuh
Rimbunnya hutan bernyanyikan hewan-hewan
Kini membisu, tertutup lumpur duka

Langit cerah berubah langit kesedihan
Air mata hujan bersatu air mata kenyataan
Desa-desa hanyut bersimbah air dahsyat
Mengalir deras menuju tempat tumbuh, yang belum sempat tumbuh

Tangan kecil, suara-suara halus mencari ibu
Mata lesu menatap runtuhnya waktu
Di antara puing-puing batang dan batu
Doa-doa terus mengalir bersama arus pilu

Sumatera, engkau retak di hamparan lumpur
Di antara angin malam dan gemuruh bantuan
Dari rangkai patahmu kami belajar
Bertiup angin berita tentang kesabaran, perjuangan

Hujan tak bersalah, butiran-butiran hujan berguguran
Tapi tangan-tangan dan kekuasaan tak menjaga
Akar-akar hilang, pohon-pohon ditebang, mesin bergelora
Kemanakah lagi air mengalir?

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Puisi: Patah di Pulau Sejarah"

close