Cinta Hakiki Itu Indah

Cinta Hakiki Itu Indah

Manis dirasa, terlihat indah, jika memiliki menjadi kebahagiaan, itulah buah apel, buah yang manis, buah yang indah, dapat dibeli menjadi kebahagiaan. Tidak semua orang dapat membeli sebab mahal harganya.

Ironis, melihat dari berbagai fenomena zaman sekarang, cinta bisa berubah menjadi suatu malapetaka. Malapetaka bagi dirinya, keluarga, masa depannya, hingga lingkungannya. Marak terjadi kasus, pacaran, hamil di luar nikah, pergaulan bebas dengan lawan jenis. Awal cinta memang berasal dari pandangan mata yang tertuju pada wajah seseorang, tanpa didasari dengan pertimbangan hati. Sebab tidak mengenal hakikat cinta yang baik. Padahal jika memahami cinta itu dengan pikiran yang jernih maka cinta bisa membuahkan surga.

Siapa yang tidak kenal yang namanya cinta?, semua orang memiliki rasa cinta, cinta kepada kedua orang tua, keluarga, istri, suami, anak, saudara, teman, ataupun sahabat. Dalam kehidupan ini, jika tidak memiliki cinta akan terasa kosong. Tidak memiliki semangat dalam melakukan aktivitas apapun. Cinta sebagai salah satu penguat seseorang untuk terus bergerak untuk mencapai tujuan. Tujuan yang hendak dicapai yakni kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Alhasil, cinta bisa dirasakan di dalam hati, hadirnya cinta tidak mengenal waktu, baik pagi, siang, sore, ataupun malam. Orang yang memiliki cinta di hatinya selalu memikirkan, rindu ingin bertemu, ingin bercengkerama. Cinta juga tidak mengenal tempat. Saat bertemu lawan jenis ada getaran-getaran yang membuat jantung berdetak lebih cepat, badan terasa panas dingin. Perasaan itu merupakan pertanda seseorang mengalami jatuh cinta dengan lawan jenis.

Allah Swt memberikan cinta kepada kita sebenarnya bertujuan untuk memantapkan hati kepada arah yang positif. Arah untuk menambah semangat hidup. Kehidupan ini memerlukan keimanan, ketakwaan kepada Allah Swt.

Lebih lanjut, cinta dalam Islam mengajarkan kita untuk selalu menumbuhkan rasa cinta itu ke dalam sanubari dan melahirkan suatu perbuatan yang disukai-Nya. Sepanjang kehidupan ini akan terus ada cinta. Melihat dari masa lalu, pada zaman Nabi Adam As hingga zaman Nabi Muhammad Saw orang-orang memiliki rasa cinta. Berbagai macam cinta yang ada di diri seseorang. Namun, cinta yang tertinggi ialah cinta kepada Allah Swt.

Perlu diingat, Allah Swt yang telah menciptakan alam semesta ini. Dia yang memberikan rezeki, baik kepada manusia, hewan, maupun tumbuhan. Ketika cinta kepada Allah maka hati kita menjadi terasa indah, damai, tenang. Orang cinta berarti rela melakukan apapun, seperti halnya mencintai Allah dengan cara menjalankan segala perintah sekaligus menjauhi larangan-Nya.

Sebuah kisah yang membuat hati takjub. Kisah ini ialah kisah cinta Sayyidina Ali dan Fatimah Az-Zahra seorang putri kesayangan Nabi Muhammad Saw. Ali merupakan seorang lelaki yang tampan, salah satu sahabat Nabi, Ali sejak kecil sudah masuk Islam dan termasuk bagian dari orang-orang yang pertama masuk Islam (Assabiqunal awwalun) pada saat itu. Sejak lama Ali sudah memendam rasa cinta kepada putri Nabi. Beliau mengagumi Fatimah dari kelebihan dan akhlaknya. Fatimah dikenal sebagai seorang yang cerdas, cantik, menawan, dan akhlak yang mulia.

Walau berbagai sahabat yang datang kepada Nabi untuk melamar Fatimah, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab. Namun, Nabi menolak kedua sahabat itu. Lalu menerima lamaran Ali.

Kenapa lamaran Ali diterima?, karena Ali memperjuangkan cintanya dengan penuh kesabaran, keberanian, selain itu menjalani dengan jalan yang diridai-Nya. Takdir Allah tidak pernah salah kepada hambanya yang mempunyai niat yang baik. Kita jadikan sebagai pesan moral agar indah dalam memilih pasangan sekaligus bernilai ibadah.

Kisah ini mengajarkan kita untuk mengambil hikmahnya, menjadi teladan dalam kehidupan, khususnya dalam memilih pasangan, mencintai pasangan. Perlu tekad, sabar, berdoa kepada Allah Swt, dan mempertimbangkan terlebih dulu sebelum memutuskan hubungan lebih lanjut.

Cinta yang tidak didasari dengan keridaan Allah Swt, tidak akan bisa mendapatkan kebahagiaan di dunia ataupun di akhirat. Bersatunya insan manusia yaitu menjadi suami istri yang tidak semata ingin tinggal dalam satu atap, namun membangun rumah tangga yang bernilai ibadah dan mengantarkan kepada sang pencipta yakni Allah Swt.

Akhirnya, buah apel itu bisa busuk, buah apel bisa tidak segar, sering dipegang orang-orang, menjadikan pembeli tidak ingin membelinya. Tidak mengambil buah apel yang tanpa bungkus dan bukan buah apel yang sering dipajang. Buah yang baik ialah buah yang tersimpan dan terjaga di dalam pendingin buah.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cinta Hakiki Itu Indah"

close