Puisi: Tanah Longsor

 

Ilustrasi Tanah Longsor


Di lereng gunung senyap, bumi pupus
Seperti ibu menitikkan air mata, bersatu di pelukan pasrah
Akar tua mulai renta, masa-masa kuat tinggal kenangan
Melepas genggaman tanah, tanah bumi pertiwi

Hujan terus jatuh, perlahan namun membawa arus
Seperti air mata jeritan kesakitan, tak terucap rindu
Gunung lelah menahan beban ujian
Seketika tubuhnya rebah, berdentum menuju lembah

Rumah-rumah kecil tampak dari atas
Tiba-tiba sepersekian jam larut dalam pelukan lumpur
Jeritan tak terdengar, hanya resah dan bimbang
Mengabarkan luka bahasa yang tak mampu diterima

Tanah longsor tak hanya runtuh
Surat kabar alam, meminta kita membaca tanda
Tentang rindu tak merangkul, tak menjaga
Tentang pedih tak disembuhkan manusia

Kita membangun mahligai gemerlap kota
Lupa di atas bumi, ada tanah yang tak dijaga
Pohon berguguran satu persatu
Menyisakan isak tangis melalui kalbu

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Puisi: Tanah Longsor"

close