Puisi: Gunung di Letusan Sunyi
![]() |
| Ilustrasi Gunung Meletus |
Di belahan dada bumi nan senyap
Memendam rindu dalam tumpukan bara
Gunung bukan hanya batu keras
Ia adalah dada letih yang menahan pedih
Ia sunyi, tertunduk dalam sabar
Menyulam perputaran waktu dengan nafas panjang
Tersimpan bunyi tangisan dalam kawah
Tersulam bait-bait indah dalam sunyi
Gas bertekanan tinggi, suhu-suhu pun ribuan Celsius
Mencari jalan celah, mendesak keluar
Abu vulkanik, fosfor, tak lupa kalium melimpah
Menjanjikan kesuburan di tanah berkabut debu
Tak disangka, langit berubah kabut
Di saat langit tak mampu menahan keluh
Dan sendi-sendi doa tak menggapai langit
Ia pun berbincang dalam bahasa api
Ledakan terus menggema
Aliran lava mengalir, membakar tanpa pamrih
Menilik, mengkaji deraian peristiwa
Demi benih-benih kehidupan selamat dari amukan
Gunung dengan siklus memukau
Ilmu pengetahuan menembus kabut hitam
Alam bergerak dengan titah-Nya
Letusan-letusan itu menebarkan ketakutan
Mulut terbuka, lidahnya menjilat langit
Seperti bait puisi tak sanggup berjalan
Ia meletus bukan berarti marah
Tapi ada rintik-rintik cinta tak tertampung
Gumpalan abu turun dengan nada cinta
Yang belum dikirim ke penjuru
Menyelimuti bumi di atas kenangan
Betapa berat memikul perasaan
Gunung itu tinggi
Bukan sekedar tubuh raksasa
Ia hening di kala gemuruh
Dan menggelegar disaat sunyi, akhirnya memilih bicara


0 Response to "Puisi: Gunung di Letusan Sunyi"
Post a Comment