Puisi: Berselimut Kekeringan
![]() |
| Ilustrasi Kekeringan |
Langit dan awan lupa menangis
Tanah terbuka seperti luka lama
Terbuka tanpa pelipur
Menantikan sepercik air kasih dari langit yang enggan
Pohon lama berdiri seperti jari jemari renta
Menggigil di saat sunyi yang membatu
Daun kering gugur bukan karena musim
Tapi pupus harapan, mengeringnya akar
Daun kering gugur bukan karena musim
Tapi pupus harapan, mengeringnya akar
Sungai penuh air, kini tinggal kenangan
Seperti kekasih melupakan bekas-bekas cinta
Mengalir hanya di benak ingatan
Menyisakan kerikil kecil dan kenangan berbunga
Seperti kekasih melupakan bekas-bekas cinta
Mengalir hanya di benak ingatan
Menyisakan kerikil kecil dan kenangan berbunga
Anak-anak menggenggam pasir
Menyusun istana kerajaan dari pasir rapuh
Sementara ibu menanak air mata sendu
Di periuk tak lagi berisi butiran air harapan
Menyusun istana kerajaan dari pasir rapuh
Sementara ibu menanak air mata sendu
Di periuk tak lagi berisi butiran air harapan
Langit, di atas langit
Mengapa engkau diam, menyimpan hujan dalam dada?
Apakah kami harus merintih lebih lama?
Atau menyanyikan rindu yang lebih pahit?
Hingga engkau menurunkan hujan dahsyat?
Kekeringan bukan sekadar musim
Ia puisi dengan bait-bait yang hilang
Lagu yang kehilangan nada indah
Doa masih menggantung di langit tak bersuara
Mengapa engkau diam, menyimpan hujan dalam dada?
Apakah kami harus merintih lebih lama?
Atau menyanyikan rindu yang lebih pahit?
Hingga engkau menurunkan hujan dahsyat?
Kekeringan bukan sekadar musim
Ia puisi dengan bait-bait yang hilang
Lagu yang kehilangan nada indah
Doa masih menggantung di langit tak bersuara


0 Response to "Puisi: Berselimut Kekeringan"
Post a Comment