Puisi: Bumi Pertiwi

 

Ilustrasi Bumi Pertiwi


Dibalik gemerlap waktu, menuai sendu
Rindu-rindu ibu yang tak terbalas
Kita membelah hutan di ujung kehijauan
Tanpa setitik izin, lalu longsor mengalir dalam diam

Kabut dingin dan gelap bukan sekedar awan
Ia menjadi kabar di telinga ratapan kita
Pohon-pohon lebat yang ditumbangkan
Tanpa pilih kasih, tanpa doa, tanpa senyum

Ibu tak perlu membalas rasa dendam
Cukup getaran bumi menyentuh rumah-rumah
Mengingatkan kita di tengah keramaian
Bumi menangis menenggelamkan alam

Jauh memandang di pedalaman, tak terjangkau
Kaki-kaki tak kuat, mata tak acuh
Di kala banjir mulai menggenang sunyi
Drone-drone terbang memancarkan peristiwa

Bubur telah hanyut dibawa arus
Segala penghalang disapu dengan halus
Tinggallah bekas-bekas musibah
Menemukan setumpuk kayu di rumah-rumah

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Puisi: Bumi Pertiwi"

close