Puisi: Gelombang Tsunami

 

Ilustrasi Gelombang Tsunami


Malam-malam tak berbintang lagi
Di saat laut menanggalkan jubah besarnya
Dan berjalan melewati daratan
Langkah raksasa tak terdengar

Sesaat air surut, hanya tipuan mata sebentar
Meninggalkan biota laut yang terdampar
Namun gelombang raksasa terus terbentuk
Bukanlah ombak biasa, tapi ombak ganas

Di kedalaman laut dengan kecepatan penuh
Membentuk riak tak kasat mata
Menuju pantai dangkal, melambatkan dengan perlahan
Energi kekal, di ketinggian membumbung hebat

Datang dari penjuru laut, bukan untuk menghancurkan
Tapi mengingat-ingat alam
Bahwa bumi cinta bisa menangis keras
Dan air mata tak selalu jatuh dari langit

Tsunami ia lonceng menyuarakan kabar
Yang dibunyikan dari dasar samudra nan gelap
Bergema membelah waktu
Membangunkan kita dari kasur yang empuk
Di ranjang keserakahan mengais bumi

Ia menyapu lautan rumah-rumah
Menyapu keangkuhan yang dibangun dari beton dan lupa
Ia menghapus jejak jalanan dan gedung-gedung kota
Belajar membaca alam dengan hati yang lebih ringan

Di saat air surut mulai reda
Sunyi menggema yang membekas pilu
Kita temukan puing-puing berserakan
Juga benih-benih keberanian, kasih yang tumbuh

Setiap gelombang yang datang
Membawa kabar dari langit
Hidup bukan bertahan, tapi mengalir
Menerima dan kembali ke jalan yang benar

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Puisi: Gelombang Tsunami"

close