Puisi: Gempa Bumi Bernafas

 

Ilustrasi Gempa Bumi


Lempeng-lempeng bergeser membentuk gerakan
Tarian raksasa tersembunyi di bawah bumi
Energi terkumpul dari kerak yang mulai menua
Menantikan hari pelepasan dengan getaran dahsyat

Bola dunia, bumi, ibu memendam sabar
Luka-luka disimpan dalam hening
Hingga hembusan pagi ia mengeluarkan napas
Dan dunia indah pun berguncang

Epicenter membara kemerahan, hiposentrum terus berdenyut
Gelombang seismik merambat, seperti bisikan maut nestapa
Frekuensi perlahan rendah bergema, mencabik kesunyian malam
Patahan litosfer menari, tercipta gempa alam

Alat seismograf mencatat gelombang getaran pilu
Mengukur magnitudo, menghitung episentrum
Dari arus lempeng tektonik menuju retakan tanah
Pengingat jiwa-jiwa, akan hentakan alam raya

Retakan kecil bukan sekedar patah
Tapi bisikan dari pusat bumi
Tangisnya tak sempat mengucap kabar
Akhirnya meledak dalam diam

Memandang langit tak mengubah warna
Tapi tumpukan tanah menari sambil berduka
Rumah nan kokoh seperti kenangan
Lebur dalam pelukan debu-debu

Pohon berjejer menyemai doa dalam sunyi
Kawanan burung mulai kehilangan arah
Manusia menjelajah alam mencari makna
Di antara serpihan benda-benda dan doa nan patah

Sekejap melihat reruntuhan itu
Tangan lembut, tangan kekar saling menggenggam
Seperti tumbuhnya akar yang tak terlihat
Namun menguatkan batang yang mau tumbang

Gempa di belahan ibu pertiwi, bukanlah hanya guncangan
Ia menjadi tanda dari surat cinta bumi
Yang letih menahan beban duka
Dan ingin dilihat, didengar, dirasakan hati, meski ada retakan dan air mata

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Puisi: Gempa Bumi Bernafas"

close