Puisi: Arus Banjir Berkelana

 

Ilustrasi Arus Banjir Berkelana


Tamu tak diundang, ia bukan sebagai tamu
Tapi luka-luka yang menjelma ketukan pintu
Langit menurunkan rahasia dari bongkahan air
Bumi pun tak sempat menghadang

Hutan gundul membisu di hulu sungai
Infiltrasi lenyap, air melaju tak tau arah
Debit air meningkat tajam
Energi kinetik menyapu kehidupan mulai kejam

Intensitas hujan menggelora ambang batas
Kapasitas sungai mulai menyempit
Serapan tanah hilang, hanya air-air mengambang
Tak ada sisa tawa, hanya kepasrahan di wajah

Air jernih tak ada lagi, penyejuk dahaga hilang
Tapi tinta menggoreskan ulang peta
Jalan-jalan berubah gemerlap sungai
Rumah-rumah berubah menjadi perahu tanpa tujuan

Pohon nan gagah, ia mencabut akar-akarnya sendiri
Seperti melepaskan diri bersama tangisan langit
Dan anak-anak hujan yang gugur
Berlari di antara sayatan sendu dan doa yang tenggelam

Banjir bandang datang menembus keheningan
Alam tersapu dengan pena badai dan kertas hancur
Ia menghapus nama yang menempel di jalanan
Menyisakan kenangan di pelupuk lumpur yang mengambang

Tapi dari runtuhan dan lumpur telah mengering
Harapan dari balik tenda tumbuh bunga-bunga bersemi
Meski air merenggut wajah gembira
Manusia di setiap penjuru belajar menanam kembali

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Puisi: Arus Banjir Berkelana"

close