Cerpen: Segumpal Awan Emas

 

Cerpen: Segumpal Awan Emas


Rindu melanda perkampungan. Rintik air berjatuhan membasahi bumi, berguguran dengan irama syahdu. Atap rumah warga merindu bunyi seng bersentuhan air yang deras. Anak desa berlari-lari di tengah rintik air, wajah mereka dibalut canda tawa membentuk kisah yang nanti dikenang. Tanah yang menumbuhi segala tumbuhan, mereka menunggu hujan hadir melepas sunyi, melepas kekeringan, membangkitkan tubuh bergerak memancarkan perubahan. Apakah hujan akan datang? Segenap para warga menantikan hujan.

Memang musim telah berganti, namun sayang belum dirasa. Kali ini hujan belum menampakkan tanda, walau sekedar awan tebal, guntur menggelegar. Bahkan tidak membasahi para petani di ladangnya. Apakah pertanda buruk yang menimpa kampung kami, atau karena ulang manusia yang tidak bertanggung jawab. Semuanya misteri, namun patut dicari.

Tidak terasa dua tahun ini musim penghujan belum menghadirkan dirinya untuk memberikan nikmat air kepada makhluk. Di kala musim hujan teratur dapat membasahi bumi, saya optimis segala tanaman akan subur tanpa terhambat kekeringan. Negeri kita ini akan lebih maju dari sektor pertanian untuk bahan pokok. Para petani makmur asal tidak dibebani berbagai aturan dari pimpinan. Iya, kita semua merindukan hujan yang membuat perubahan.

Segala ciptaan Tuhan merindukan hujan. Sebab hujan menemani pertumbuhan dari bibit harapan. Tanah yang kering, daun layu yang jatuh satu persatu ke tanah, mereka mengharapkan air kesegaran membasahi ke seluruh tubuh hingga ke dasar tanah. Udara panas belum berubah ke udara dingin. Setiap hari mengadu nasib dengan bertahan di atas bumi. Di perputaran waktu mereka tidak lupa berdoa kepada Tuhan semesta alam yang mengatur, agar Dia menyegerakan hujan yang telah lama ditunggu untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Para petani tidak tahu kapan datangnya hujan, mereka mempermasalahkan alam yang tidak bersahabat. Setiap bertemu pasti mengenai hujan yang tidak kunjung tiba. Peristiwa di ladang masing-masing jadi obrolan yang begitu menyedihkan, kekeringan menghambat semua pertumbuhan dan pembuahan. Hasil buah tidak sesuai harapan. Saya sewaktu bertemu dengan paman petani yang terlihat murung dengan langkah yang lemah.

Sinar matahari yang semakin meredup di ufuk barat dengan warna keemasan menjelang pergantian sore ke malam. Saya masuk rumah dengan kaki kanan dengan perlahan-lahan meninggalkan hari yang masih membawa cerita hujan yang dinantikan para warga di kampung. Angin panas berubah menjelma dingin menyentuh tubuh. Saya ambil jaket menghangatkan tubuh di malam hari yang dingin.

Handphone dipegang, saya buka media sosial. Terkesima melihat negeri asing yang subur, tertata rapi dengan pepohonan yang rindang, bunga yang membentuk taman yang indah. Saya geser kanan lagi terlihat para wisatawan yang berfoto ceria berlatar tumbuhan. Negeri yang menjaga kehijauan, walau berbagai musim mereka temui. Pemandangan gunung yang menjulang tinggi, hutan yang lebar di sepanjang perjalan menuju puncak. Sungguh besar ciptaan Tuhan. Sementara saya di sini masih menantikan hujan yang turun.

Sungguh kehidupan ini perlu musim hujan yang melepaskan kerisauan perindu yang telah lama tertanam di hati. Sumber air yang mesti digenangi air, sungai yang mesti mengalirkan air yang baru. Mata telah membawa tanda, perlahan-lahan saya memejamkan mata, tak lupa berdoa sebelum merebahkan di tempat tidur.

***



“Haruskah kita seperti ini, batang, dedaunan semuanya mulai perlahan kering,” kata Pohon Mangga.

“Hujan belum kunjung tiba, melegakan akar kita, air itu menjadi sumber kehidupan kita untuk bertumbuh. Berawal dari sebutir biji, membentuk tunas kecil, menuju batang yang berisi dedaunan kecil hingga bertumbuh membawa perubahan dewasa, sampai menghasilkan buah yang segar dan manis,” ujar Pohon Rambutan.

“Mengapa hujan belum segera turun walaupun tidak sederas air terjun? Seharusnya hujan mengerti akan keadaan para dunia tumbuhan yang semakin hari semakin kering kerontang, kondisi tubuh diterpa angin hingga cahaya sinar yang begitu panas. Tapi Tuhan sudah mengatur kapan hujan berlangsung, kapan kekeringan ini akan berakhir. Kita hanya berusaha dan berdoa, sungguh ujian membuat kita menjadi sadar, mengambil hikmah di setiap ujian berlangsung,” Pohon Belimbing menyuarakan dengan tabah.

Saya melintasi pohon itu, telinga mendengarkan dengan seksama, mata ikut melihat pohon itu melambaikan dedaunan dan ranting yang masih melekat di tubuh mereka. Saya lihat mereka asik bercerita tentang hujan yang dinantikan, masalahnya belum dipecahkan. Saya berjalan menuju cahaya.

Waktu subuh, saya pun terbangun dari tidur, bersiap mandi, diteruskan salat. Sajadah terhampar menuju arah kiblat. Berpakaian muslim, baju putih, sarung hitam, peci putih. Selepas salat subuh dan zikir, doa-doa dipanjatkan dengan kesadaran akan kehidupan, lingkungan yang sangat membutuhkan air hujan, masyarakat yang kembali ke jalan rida-Nya. Dalam doa tak lupa selawat dan puji-pujian kepada-Nya.

“Ya Rabbi, pemilik alam semesta ini. Dengan selawat dan nama-Mu Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Razzak. Ampunilah dosa saya, dosa kaum muslimin-muslimat, tunjukkanlah kami ke jalan kebaikan, jalan orang-orang yang beriman. Turunkanlah hujan dengan penuh rahmat, penuh kemaslahatan.”


***



Suasana pagi hari berbeda dengan hari sebelumnya. Saya melangkahkan kaki menuju halaman rumah, Angin panas yang dulunya membawa gerah kini menerpa wajah saya dengan dingin. Jalanan terasa sejuk dengan sinar yang lembut. Pohon yang tertanam di jalanan semuanya terasa damai. “Mungkin mereka bertasbih, memuji kebesaran-Nya, yang tidak bisa diketahui oleh saya bacaan tasbihnya,” seraya memandang pohon itu.

Hari menjelang siang, segerombolan orang berbondong-bondong pergi menuju masjid. “Ada apa gerangan menyebabkan mereka pergi ke masjid?” Saya pun bertanya-tanya di hati. Siapa tahu mereka ingin bertaubat kembali ke jalan yang benar. Memohon ampun atas segala dosa yang telah dilakukan. Tapi apakah benar dugaan saya itu? Saya penasaran dengan peristiwa yang barusan terjadi.

Saya beranjak pergi dari halaman rumah menuju masjid, ingin mencari tahu kenapa mereka pergi ke masjid tanpa dikomando oleh seorang pimpinan. “Maaf Pak, saya ingin bertanya, memang ada kejadian apa? Saya lihat orang-orang pergi ke masjid.” Tanya saya dengan wajah penasaran.

“Adik belum tahu ya? Masyarakat kita sudah bertaubat dan ingin salat bersama. Masyarakat ingin meninggalkan perbuatan yang menyalahi aturan-Nya, ingin kembali kepada kebaikan, serta memohon agar kampung kita disegerakan hujan dengan keberkahan-Nya,” ungkap paman.

Alhamdulillah, saya terucap kata pujian kepada-Nya. Mendengar dari bapak itu, perihal keadaan masyarakat yang ingin berubah menuju kebaikan. Sempat saya menyentuh pipi dengan telapak tangan, apakah peristiwa ini benar nyata atau sekedar mimpi. Ternyata saya tidak sedang bermimpi. Semuanya tidak terlepas dari hidayah-Nya yang menggerakkan hati para hambanya untuk ke jalan kebenaran. Kini awan emas yang dinantikan itu hadir. Warga bilang “Segumpal Awan Emas” yang berharga untuk kehidupan.*

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerpen: Segumpal Awan Emas"

close