Cerpen: Biji-biji Gerai

 

Cerpen: Biji-biji Gerai




Saya menyukai dan mencintai demokrasi. Sebagai seorang warga biasa. Memang tidak terlihat di mata orang besar, sebagai pejuang, apalagi pahlawan desa. Nama saya tidak muncul di koran, media sosial. Potret kehidupan saya tak dipertontonkan secara luas. Saya hanya berjuang di lingkungan RT, Desa Tumbuh.

Seluruh warga memiliki jiwa-jiwa pro demokrasi, saya salut sebagai pimpinan RT. Mendukung tanpa mempermasalahkan syarat untuk pelaksanaan demokrasi. Dengan bersikeras mereka menggaungkan gerakan demokrasi, merespon langsung bagi orang anti demokrasi. Dengan mudahnya saya mengajak dan membangkitkan mereka untuk maju membela kebenaran demi mempertahankan jiwa demokrasi di zaman penuh misteri dengan kejutan-kejutan peraturan pemerintah yang membuat orang berkerut kening. Semua bersatu kalau sudah berhubungan demokrasi.

“Intinya bagus, sesuatu harus diperjuangkan dengan segenap jiwa sampai gerak tenaga penghabisan. Perlu sesuatu yang mengeluarkan pengorbanan untuk orang banyak. Menuju masyarakat yang berkemajuan, berkembang, adil dalam suksesnya pembangunan desa,” ujar mereka.

Keesokan harinya, di RT kami mendapat kunjungan dari petugas yang berasal dari kota. “Berhubung akan diadakan pembangunan biji-biji gerai di desa, sehingga perlu lahan yang luas seperti lahan milik sekolah. Para petugas menghimbau supaya kami bisa merelakan sekolah di RT kami, merelakan bangunan itu, demi kepentingan bersama dalam ekonomi.”

Saya dan warga tercengang setelah mendengar perkataan itu. “Enak saja mereka mau mengambil lahan sekolah, demi pembangunan yang katanya kemajuan bersama. Pembangunan untuk siapa? Bagaimana kalau sekolah tempat anak-anak kami digusur? Sekolah itu satu-satu yang ada di RT kami. Lantas langsung kami tolak. Bagaimana hidup tanpa pendidikan, anak-anak akan buta aksara, pengetahuan alam akan sirna, bisa-bisa anak tak cinta lagi dengan lingkungan yang penuh akan pepohonan?”

“Memang mau protes? Itu sudah keputusan bersama dari pemerintah kota,” kata petugas itu.

Hal itu semakin membuat kami tercengang. “Bisa-bisa kalian mengambil keputusan bersama dengan atasan mengenai sekolah kami, tanpa rembukan seperti kepala desa, kepala sekolah yang seharusnya dilibatkan dalam agenda diskusi pembangunan, kalian ini seperti tidak tinggal di wilayah demokrasi saja,” saya berusaha menyuarakan hak sekolah.

“Jadi begini, kami ingin membangun biji-biji gerai di desa untuk memperkuat ekonomi yang merakyat, membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Nantinya bisa memudahkan kalian akan ketersediaan bahan pokok, membantu para petani, nelayan, dan pelaku usaha dengan fasilitas lengkap. Dengan dibangunnya biji-biji gerai membuat warga semakin berdaya juang dalam jual beli. Itu sudah diperhitungkan dengan sungguh-sungguh.”

“Bagaimana diperhitungkan dengan sungguh-sungguh? Kami tidak pernah diikutsertakan dalam hal ini, sekolah ini sangat berarti untuk anak-anak kami,” bantah saya dengan wajah agak geram.

Tiga hari kemudian, beberapa warga dari tetangga kanan kiri kami datang menemui saya. Mereka mengatakan agar mengorbankan sekolah itu, semua warga akan tertolong dalam memenuhi kebutuhan pokok dengan harga yang murah. Mereka yang mendukung pembangunan biji-biji gerai, seolah pembangunan itu mulia. Setelah menghimbau kepada kami, betapa pentingnya lahan itu untuk kemajuan dan kemudahan ekonomi di desa. Lantas mereka memberi peringatan, kalau pembangunan itu tidak segera dilaksanakan, sesuatu yang tidak mengenakkan bisa terjadi.

Saya terjepit sebagai ketua RT dan mewakili beberapa warga yang masih memiliki jiwa-jiwa demokrasi. Kepentingan antara pembangunan ekonomi dengan sekolah tempat menyemai anak-anak yang berjiwa tulus agar memiliki masa depan yang indah. Belum sempat untuk mengadakan rapat bersama warga mengenai pembangunan biji-biji gerai. Tanpa ada tanda minta izin kepada kami, sebuah buldoser muncul dan mengaruk bangunan sekolah. Warga, anak-anak, dan para guru panik. Baru saja untuk protes, sebuah benda tajam tergores di salah satu warga, itu sebagai tindak peringatan karena menghalau kegiatan mereka.

Bingung melanda pikiran saya. Akhirnya setelah berpikir agak lama untuk memecahkan masalah, saya beranikan diri untuk berkunjung ke kantor kota pimpinan tertinggi dalam pembangunan biji-biji gerai. Ia yang menginginkan sekolah digusur, lalu menggantinya dengan bangunan yang katanya untuk manfaat bersama. Memang agak susah untuk menemuinya, setelah memberitahu diri sebagai ketua RT di Desa Tumbuh, barulah saya diizinkan masuk oleh asistennya.

Pimpinan itu kaget setelah mengetahui saya sebagai warga yang getol untuk membela tanah sekolah. Tapi, ia berusaha menggantinya dengan senyum ramah, lalu berusaha menyalami tangan saya. “Langsung ke intinya saja, saya mewakili warga bahwa tanah sekolah tidak pantas untuk diubah biji-biji gerai.” Kepala beliau geleng-geleng, dan tangannya ke dada. Ia pun memanggil sekretaris untuk berbisik dan berunding. Ia kembali mengarahkan pandangan kepada saya seperti orang banyak akal.

“Saya mohon maaf atas tindakan anak buah saya, sebenarnya para petugas sudah diberi uang lebih untuk memilih lahan untuk dibangun biji-biji gerai, tanpa mengganggu bangunan sekolah. Itu di luar kehendak saya juga bukan inisiatif ide-ide cemerlang. Saya minta maaf kepada bapak sekiranya mohon untuk menyampaikan permintaan maaf juga kepada warga RT bapak,” keluar kata-katanya dengan meyakinkan.

Saya tidak senang dengan sikapnya. Tidak percaya dengan ucapan yang keluar darinya. Saya siap mengerahkan warga untuk mendemo. Namun, ketika ia mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat. Memang tebal isinya. Saya terdiam, lalu membaca tulisan di atasnya tertera 50.000.000 banyak sekali uang ini. “Mohon dipikirkan baik-baik, Pak,” katanya sembari menyerahkan uang itu.

Saya teringat anak-anak, lantas mengembalikan uang itu, “Maaf saya tidak bisa menerima ini, Pak.” Dengan cepat-cepat saya kembali pulang ke rumah. Ketika di jalan saya masih terbayang uang itu. Walaupun banyak uangnya, apalah arti sebuah keadilan, pendidikan. Anak-anak perlu sekolah, perlu pengetahuan, perlu guru yang bisa mengajarkan budi pekerti yang baik.

Para warga di RT saya, mereka kembali datang untuk merembuk tindakan yang tepat untuk selanjutnya. Saya memberi pesan.

“Memang berat ketika sekolah harus digusur, demi proyek biji-biji gerai. Tetapi kita harus berusaha dengan terus menyuarakan kepada pihak-pihak yang mendukung kita. Sekarang harus viral dulu, baru klasifikasi, semua heboh baru datang minta maaf. Kita perlu orang yang suka membantu perjuangan pendidikan, kalau perlu kita hadirkan pengacara yang baik.”

Demi demokrasi harus bergerak, semua warga saya berusaha mendukung. Dari anak-anak, orang tua, hingga guru, mereka mulai menyebarkan video sekolah yang hancur setelah digusur paksa. Tanpa takut untuk menyuarakan realita, berani mengambil tindakan.

Setelah seminggu, video tersebar ke penjuru daerah. Wartawan, para jurnalis mulai berdatangan, dan mengangkat tema sekolah di tempat kami. Mereka membantu menyuarakan permasalahan terjadi. Hingga pimpinan tertinggi mau bertanggung jawab sampai tuntas. Saya tetap kukuh mempertahankan demokrasi bersama warga, dan orang-orang yang melihat video sekolah kami.*

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerpen: Biji-biji Gerai"

close