Cerpen: Perindu Baitullah

 

Ilustrasi Ka'bah



Suara azan menggema di kampung Intan Mawar. Embun-embun masih melekat di dedaunan. Namun suara itu, suara penggugah jiwa lemas menuju bangkit menuju kepada sang khalik. Maziya bangun untuk menunaikan shalat.

Suaranya marbot halus dengan irama seperti qari Timur Tengah, mampu menarik pendengar ke magnet-magnet ibadah. Menggentarkan suara hingga ke dalam jiwa yang sulit dijelaskan. Suara itu adalah suami Maziya, orang-orang memanggil dengan nama Alif. Suaminya bertugas menjadi marbot, selain itu sehari-harinya menjadi karyawan di toko tas.

Maziya bukan siapa-siapa, ia tidak bergelar ustadzah, bukan pula tokoh masyarakat. Ia hanya pengajar Al-Qur’an di desanya. Mengajari anak-anak dari rumahnya, terkadang ia bisa pergi ke rumah anak didiknya kalau orang tua anak itu memintanya.

Terhampar meja-meja, Iqra, Al-Qur’an di dalam rumah, pada jam siang selepas zuhur biasanya anak-anak sudah mulai berdatangan. Maziya duduk di depan memimpin doa sebelum belajar, lalu anak-anak satu persatu maju.

Baginya melihat anak-anak bisa mengaji sungguh bahagia, ia bisa memanfaatkan ilmu yang diajarkan gurunya pada waktu kecil dulu. Menatap kerudung anak perempuan yang masih belum sepenuhnya tertutup, ada rambut yang terlihat di bagian ubun-ubun. Walaupun masih kecil, Maziya tersenyum dan berusaha memperbaiki jilbab anak itu.

Kali ini ibu akan mengajari tajwid, membaca dengan baik dan jelas huruf-huruf hijayyah, ya Nak!. Pada pertemuan ini ibu membahas Izhar Syafawi, ada yang tau nggak apa itu? Anak-anak menatap ibu gurunya sambil mengucap, “Kami tidak tau ibu guru.” Izhar Syafawi adalah hukum tajwid yang terjadi ketika mim mati (مْ) bertemu huruf hijayyah selain mim (م) dan ba (ب). Jadi, cara bacanya ialah jelas, terang, dan singkat pada mim sukun itu, tanpa mendengung (ghunnah).

Ibu akan mencontohkannya terlebih dulu ya!, perhatikan, dengarkan. Contoh pada An’amta (اَنْعَمْتَ) dan Hum Naa’imun (هُمْ نَائِمُوْنَ). Sekarang kalian ikuti ibu membaca ya! Bagus anak-anak, lalu kalian baca sendiri bersama teman-teman. Pintar anak ibu semuanya! Banyak-banyak latihan di rumah ya, mari kita tutup pelajaran hari ini dengan Alhamdulillah.

***

Sebuah toko tas di pasar, berisi berbagai macam tas. Tas anak-anak hingga tas dewasa, yang bermerik hingga yang biasa. Istilah orang toko serba ada, serba ada dalam lingkup tas. Pagi itu jam delapan Alif sudah berangkat kerja, ke toko tas milik bosnya. Melayani pembeli dari berbagai daerah, bahkan kota. Sebelumnya ia berpamitan saling salam dan doa kepada istrinya di rumah.

“Bapak mau beli apa? Sini saya akan bantu mengambilkan,” Alif tersenyum menawarkan diri.

“Saya mau tas ini mas, cocok untuk pekerjaan saya,” jawab si bapak sambil menunjukkan jari telunjuk ke arah tas.

“Baik pak, ini harganya 150 ribu, diskon menjadi 135 ribu, Apa bapak mau beli tas ini? sambil memberikan tas ke tangan bapak.

“Iya saya mau beli, ini uangnya mas, saya tukar ya!.”

“Saya jual tas ini, terima kasih pak.”

***

Di balik wajah sang istri tak tampak gelisah. Namun memendam rindu. Apakah rindu keluarganya? Rindu anak muridnya? Rindu dengan suaminya?

Bukan itu semuanya, ia rindu tak berbentuk, ia hadir di jiwa-jiwa kesyahduan. Rindu akan Tanah Suci, pada Kakbah yang sehari-hari hanya bisa lihat di televisi. Merindu akan panggilan agung itu.

“Ya Allah, saya ingin melihat dengan mata dan kepala langsung menatap Baitullah-Mu, walau sekali saja, biarlah hanya satu kali agar di saat saya meninggal bisa tenang,” suara di hati ketika sujud terakhir shalat.

Maziya pernah mengutarakan niat itu kepada sang suami Alif. Biarlah kita ini orang biasa-biasa saja, namun berusaha untuk pergi ke Mekkah melakukan ibadah haji. Kita tabung sama-sama ya mas? Agar bisa berangkat nantinya.

Dua tahun yang lalu Maziya telah menyetorkan uang untuk pergi haji, uang dari hasil mengajar anak didiknya, walau tidak seberapa yang diperoleh dari pemberian orang tua mereka. “Mas akan menambahkan uang hasil kerja di toko tas,” suaminya memberi semangat agar istrinya bisa haji.

***

Empat puluh tahun kemudian, uang untuk pergi haji akhirnya terkumpul juga. Maziya tersenyum dan terharu karena tahun ini bisa berhaji walau usianya tidak lagi muda. Usia lansia. Begitu pun suami sudah pensiun dari kerja di toko tas milik bosnya.

Alhamdulliah, sekarang kamu bisa pergi haji sayangku,” mata suami berair sambil diusap dengan tangan yang berkerut.

“Iya, Alhamudillah, terima kasih ya mas, terima kasih kamu membantuku, semoga mas juga naik haji nanti,” istrinya sambil duduk berhadapan dengan suami.

Tiba-tiba angin sejuk melanda di siang hari menyusup ke rumah yang sederhana itu. Telepon berbunyi. Segera Alif angkat. “Assalamu’alaikum, bapak Alif, ini saya Rahman anaknya pak Ramli, mau kasih kabar ke bapak. Bapak saya ada nazar memberangkatkan haji kepada karyawannya yang sudah pensiun, bapak salah satunya yang termasuk akan diberangkatkan haji tahun ini,” ujar anak bos itu.

“Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah, terima kasih banyak, bapak jadi terharu, semoga rezekinya lancar ya.”

“Bapak tinggal urus perlengkapan saja nanti, uangnya sudah disediakan oleh bapak saya. Nanti bapak ke rumah ya, untuk dibicarakan kelanjutannya. Wassalamu’alakum,” ponsel di tutup.

Maziya dan Alif sujud syukur atas kabar gembira ini. Bisa pergi ke Mekkah, merindu Baitullah yang sudah lama dicita-citakan mulai dari muda hingga masa tua. Lalu diadakan syukuran sekaligus doa selamatan agar lancar dalam pelaksana haji. Pergi dalam keadaan sehat, pulang dalam sehat, penuh berkah, dan mendapat haji yang mabrur.*

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerpen: Perindu Baitullah"

close