Cerpen: Dambaan Doa Terkabul

 

Ilustrasi Sedang Berdoa



“Doa-doa dipanjatkan, segenap usaha telah dilakukan. Izinkan aku menemukan sesuatu yang berharga. Dilihat bahagia, didengar mendebarkan rindu, tangan-tangan yang menghadirkan senyuman. Bagi yang memiliki menjadi benda berharga seolah taman-taman pohon buah yang dipetik menghilangkan dahaga, mengusir lapar, dan kepedihan kehidupan.”

Bersama keheningan malam, tangannya terus terangkat dengan doa-doa yang lirih. Dari kalbu yang tulus, menuju pengharapan kepada sang Maha Pencipta. Ia duduk di atas sajadah menghadap kiblat, tempat jutaan muslim memakai kain ihram mengelilingi ka’bah di saat musim umrah maupun haji.

***



Seminggu terakhir dari kejadian yang tidak mengenakkan Pak Raffa. Berbagai kebijakan dari atasan hingga mengubah ia menjadi pensiun dini. Pak Raffa menjadi seorang yang uring-uringan tidak mengenal waktu lagi, tali-tali yang dulu optimis kini berubah menjadi tali keputusasaan. Teman hidupnya sebuah bantal yang menjadi penyangga lehernya yang mulai berkerut, dan kepalanya yang dihinggapi masalah kebutuhan keluarga. Sembari menghilangkan dahaga yang selalu memanggilnya, ia menyiapkan botol-botol berisi air putih untuk diminum.

Tumpukan album foto Pak Raffa bersama teman-temannya selama bertugas di toko sembako, ia tatap semakin lama, kedua matanya akhirnya tak mampu menahan aliran air kesedihan. Di antara tumpukan itu ada juga surat-surat ketika melamar pekerjaan di atas meja dalam ruangan tidurnya. Ia pun menatap jendela rumah, terlintas penjual sate dengan gerobak dorong, “Sate-sate, ayo dibeli-dibeli.” Pak Raffa tidak memiliki uang untuk membelinya, lantas menambah isak dan tangis yang ditahan dengan menempelkan kain sapu tangan di wajahnya.

Pak Raffa tertidur, lalu seolah dirinya memasuki lorong-lorong di kegelapan. Ia mencari cahaya-cahaya bulan yang menerangi, berjalan meniti setapak jalan dipenuhi rumput-rumput yang berirama bersama angin. Dengan kaki-kakinya melangkah ketegaran. Ia ingin meminta pertolongan dengan orang-orang, namun mereka tidak mendengar. Mereka tergerak jika warna-warni lembaran yang berpeci bisa didapatkan, tanpa itu orang-orang tidak mau membantunya. Pak Raffa terbangun dari tidurnya sambil mengucapkan Alhamdulillah dan Istighfar.

***



Orang banyak terkena PHK besar-besaran, Pak Raffa menjadi salah satunya dari pemberhentian kerja di toko sembako. Toko sembako yang dulunya ramai, harganya bersahabat di kantong pembeli, karyawannya pun banyak melayani pembeli anak-anak, orang tua. Kini harga sembako lebih mahal dari sebelumnya, sebab operasional yang naik yaitu bahan bakar yang dipakai mobil mengantarkan sembako hingga ke toko. Waktu terus berjalan, masa-masa bahagia itu telah pergi meninggalkan Pak Raffa. Ditambah perang di Timur Tengah dan naiknya dolar menyebabkan berbagai masalah ekonomi terjadi perubahan hingga berdampak pada karyawan.

Sebelum diberhentikan Pak Raffa piawai dengan menyusun, memilah barang-barang untuk ditempatkan di rak-raknya. Tangan-tangannya kuat mengangkat dari truk-truk sembako yang datang. Kata-katanya tertata rapi, menarik pelanggan untuk membelinya. Kini ia duduk di kursi kayu memandang semut di atas meja yang terus bekerja bersama kawan-kawannya menganggut gula yang tersisa di sendok makan.

Seisi rumah gelap, Pak Raffa kebingungan. Padahal ia baru mencat rumahnya dengan warna putih, warna kesukaan istrinya, katanya putih menyejukkan mata. Ia baru ingat belum mengisi token listrik ke warung, uangnya tidak ada, ia harus menunggu istrinya. Teringat sewaktu masa muda bersama istri tercinta, hari-hari seolah madu yang siap dinikmati, apapun keinginan bisa tunai segera, istri melayani dari membuat kopi, membuatkan makanan, hingga mencuci pakaian yang kotor. Kenangan manis itu berubah menjadi hambar, semua tinggal lembaran cerita yang hinggap di benak.

Teringat keadaan suaminya begitu memprihatinkan, Ibu Ida termenung di sebuah rumah warga. Ibu Ida hanya penjual kue-kue dan berbagai makanan gorengan. Mengambil dari rumah produksi lalu membawa berjalan ke rumah-rumah warga. Terkadang harus pagi-pagi sekali, siang, dan sore. Ia selalu menawarkan dagangan dengan suara-suara yang membuat orang berdatangan, “Kue, kue, murah-murah. Ibu, bapak, anak-anak yuk dibeli, beli lima gratis satu kue.”

Malamnya Ibu Ida kembali ke rumah yang tidak begitu besar, cukup untuk ditempati dari hujan dan panas. Ibu Ida berada di rumah menatap Pak Raffa yang tidak tentu arah mengenai apa yang dilakukan ke depannya. Ibu Ida hanya diam, tidak mau berbicara dan tidak mau menasehati orang yang lagi dilanda frustrasi. Ia mengetahui watak suaminya, semenjak dua bulan setelah bersuami dengannya. Kalau Pak Raffa marah, kata-katanya sangat tidak enak didengar, barang-barang di rumah bisa berantakan. Diam menjadi salah satu senjata ketika menghadapi suaminya, ia memberi waktu kepada suami agar bisa lebih berpikir mencari jalan keluar permasalahan.

***



Sebelum berangkat Ibu Ida tidak lupa melayani suami. Walau ia agak kesal, gerah, hati semakin semrawut olah suami yang hanya makan dan tidur setiap hari. Ia berusaha menyembunyikan rasa itu kepada suaminya. Ibu Ida hanya berpesan agar baik-baik di rumah, jangan memalukan istri. Lalu ia berangkat berjualan ke rumah-rumah warga. “Nanti saya pulang, mungkin agak lama kali ini.” Ia melangkahkan kaki menuju sepeda yang memiliki keranjang di depannya.

Menunggu istri pulang dari berjualan, itu bukanlah sesuatu yang mudah bagi Pak Raffa. Perlu kesabaran dari pagi hingga sore hari, memang ia menunggu istri kesayangan, yang rela menahan ketabahan suami. Matahari di sore hari perlahan-lahan pergi. Ibu Ida belum kunjung pulang. Pagi ia pamit dengan suami sambil bersalaman, lantas meninggalkan rumah. Kali ini ia begitu jauh untuk berjualan, katanya desa setempat sudah banyak orang yang berjualan kue, ia ke desa sebelah. Ibu Ida menggunakan sepeda dengan jarak lima ratus meter, bahkan bisa lebih dari itu. Belum lagi ketika hujan saat berjualan, ia harus berteduh ke rumah warga.

Langit-langit cerah mulai berganti gelap. Anak-anak tetangga yang bermain di luar rumah sudah diajak masuk oleh ibunya. Ibu Ida belum juga datang, istri yang dinanti-nantikan membawa uang itu. Ia resah dihadapkan keadaan yang sulit, uang tidak ada lagi untuk membeli makanan. Bunyi-bunyi kruk…., kruk.…, menggema di dalam perut, memanggil tuannya. Namun, Pak Raffa harus menahan laparnya, malu kalau ia harus meminta-minta kepada tetangga sebelah, kanan, kiri, walau dilihat tetangga yang berkecukupan.

Pantang untuk meminta-minta. Pak Raffa benar-benar menahan sakit perutnya dengan minum. Sembari menunggu istrinya. Adzan maghrib berkumandang di masjid, bunyi takbir memancarkan suara ke berbagai penjuru, sampai-sampai masuk ke kalbu Pak Raffa. Hidayah datang kepadanya, ia berjalan ke masjid lalu mengambil air wudu. Dibuka air dari kran yang mengalir kesejukan, membasahi semua anggota wudu. Setelah selesai shalat dan imam memimpin doa bersama, lalu ia berdoa sendiri. Dalam doa sendiri, ia meminta doa yang menggambarkan hatinya yang risau, ia meminta agar Allah mengabulkan doanya.

Doa itu berarti bagi Pak Raffa. Doanya, “Berikanlah ya Allah rezeki yang melimpah, dari berbagai sudut mata angin, dari dalam tolong keluarkan, dari langit tolong turunkan, dan ampuni kesalahan hamba yang lalai ini.” Ia mengusap kedua tangannya, menemukan air yang basah di telapak tangan, air mata pengharapan untuk segala doa.

“Para jamaah shalat Magrib. Pada kesempatan ini kita isi waktu antara shalat Magrib dan Isya dengan ceramah agama. Kepada Ustadz Fauzan kami persilakan.” Kata panitia masjid. Beberapa orang ada yang duduk dengan membentuk lingkaran menghadap ustadz, ada yang menetap duduk bekas shalat, ada yang bersandar di tiang masjid, ada yang pulang ke rumah masing-masing, sedangkan Pak Raffa memilih untuk mendengarkan ceramah agama itu.

Sampailah pada kisah ini, para jamaah sekalian yang berbahagia. Imam Ahmad bin Hanbal merupakan imam yang disegani banyak orang, terkenal ulama besar, ahli hadits, hafalan hadist yang luar biasa. Suatu ketika Imam Ahmad pergi sendiri ke kota Basrah, padahal beliau tidak ada hajat di sana. Waktu shalat tiba Imam Ahmad melaksanakan shalat Isya di masjid, hingga beliau ingin istirahat. Semua jamaah yang hadir sudah pada pulang, Imam Ahmad ingin tidur di dalam masjid, tiba-tiba marbot masjid mendatangi beliau dan bertanya, “Wahai syekh, mau ngapain di sini?”

Marbot itu tidak mengenal akan Imam Ahmad, begitu pun Imam Ahmad tidak mengenalkan dirinya kepada marbot. Imam Ahmad menjawab, “Mau tidur, saya ini musafir.” Lalu marbot masjid berkata, “Di tempat ini tidak boleh tidur, baik di dalam maupun di teras masjid.” Imam Ahmad diusir dari masjid sampai-sampai didorong hingga ke jalan. Para jamaah yang dirahmati oleh Allah, bayangkan sendirian pada malam hari, jauh dari tempat tinggal, ingin istirahat sebentar saja sudah dilarang.

Lanjut, setelah kejadian itu Imam Ahmad bertemu dengan penjual roti. Beliau dibawa ke rumah penjual roti, rumah itu tempat membuat adonan roti, yang nantinya roti-roti yang telah masak akan dijual. Penjual roti itu menawarkan tempat tinggal, “Mari Syekh, Anda boleh menginap di tempat saya, walaupun rumahnya agak kecil.” Imam Ahmad menjawab tawaran itu, “Baiklah.” Beliau masuk ke rumah, lalu duduk di belakang penjual roti yang sedang membuat adonan roti. Lagi-lagi beliau tidak mengenal dirinya, ia berkata saya musafir.

Imam Ahmad terus memandangi perilaku orang itu. Ia melihat orang itu mengadon roti sambil mengucap istighfar, astagfirullah. Apapun yang dilakukan mengucap astaghfirullah baik mencampur gandum, menambahkan garam, memasukkan telur. Ia selalu mengucap astaghfirullah. Imam Ahmad bertanya, “Sudah berapa lama Anda melakukan ini?” “Saya menjual roti sudah lama sekali, semenjak bekerja sebagai menjual roti, saya terus mengucap istighfar, ya Syekh.” “Apa hasil dari pekerjaanmu ini dengan istighfar?” Imam Ahmad bertanya kembali. Penjual itu menjawab, “Dengan wasilah istighfar tidak ada hajat yang saya minta, kecuali pasti Allah kabulkan, semua permintaan saya dikabulkan oleh-Nya.”

Lalu penjual roti melanjutkan, “Ada satu lagi yang belum dikabulkan, saya ingin bertemu langsung dengan Imam Ahmad bin Hanbal.” “Allahu Akbar, orang itu saya. Allah yang telah mendatangkan saya kepada Anda, saya dari Baghdad pergi ke Bashrah, sampai diusir oleh marbot masjid itu hingga ke rumah ini, karena istighfarmu.” Penjual roti itu memuji Allah, dan pengharapan hajatnya terkabul bertemu Imam Ahmad. Itulah kisahnya, marilah kita tutup pertemuan majelis ini dengan mengucap doa kafaratul majelis, “Subhanakallahumma wa bihamdika, asyahadu an-lailaha illa anta, astaghfirulaka wa atubu ilaik.”

***



Air mata Pak Raffa mengalir dari kedua matanya. Selepas dari mendengarkan ceramah di masjid ia berniat ingin mengubah hidupnya. Ingin mengamalkan istighfar, ia berharap dosa-dosa yang telah lalu diampuni, hajat-hajat segera dikabulkan. Pohon-pohon melambaikan daunnya di sepanjang jalanan menuju rumah, bebatuan pun bertebaran di jalanan menuju hijrah. Kaki-kaki Pak Raffa merasa lebih kuat lagi, melangkah ke jalan kebenaran.

Dilihatnya jam sudah sembilan malam, Ibu Ida belum kembali pulang. Pak Raffa meyakinkan diri, istriku pasti datang, mungkin ia masih dalam perjalanan. Ia bertekad untuk mencari kerja kembali, kalau tidak ada lowongan ia ingin membantu istrinya berjualan kue-kue. Meskipun berat berjual kue, menahan aroma kue yang harum, upahnya yang sedikit. Pak Raffa mempunyai rencana agar kelak saat istrinya datang ia bisa merundingkan ide-ide yang ada di kepala. Pak Raffa ingin berusaha memproduksi kue dan menjualnya bersama istrinya. Di kamarnya Pak Raffa menghamparkan sajadah ia berzikir, istighfar, dan berdoa.

Mobil memancarkan lampu berwarna putih dan suara mobil terdengar dari depan rumahnya. Seorang pria dengan baju hitam dengan bergaris kotak-kotak putih. Pria itu melangkahkan kakinya dan mengetuk pintu. Dengan hati penasaran Pak Raffa mulai melipat sajadah, lalu menghampiri pintu rumah dengan gerakan kaki perlahan-lahan. Ia pun mengintip dinding kaca. Dibukanya pintu, tampak orang-orang berbaju putih datang membawa tandu dengan isinya.

Pak Raffa terus melantunkan doa-doa agar rezeki datang, mulutnya bergerak-gerak halus. Pria yang berbaju hitam dengan bergaris kotak-kotak putih, ia memberikan amplop yang besar dan tebal. “Maaf ya, Pak. Ini ada uang untuk bapak, semoga bapak berkenan menerimanya dan memaafkan saya.” Setelah pria itu pergi, Pak Raffa melihat isinya, uang seratus ribu yang begitu banyak, berlembar-lembar uang itu. Ia tidak sempat berkata-kata kepada pria itu, sebab keburu pergi, kini uang yang diharapkan ada di tangannya. Ia ingin menceritakan kejadian ini dan ingin membuka usaha bersama istrinya, namun istri yang ditunggu belum datang. Ada yang aneh, orang-orang itu meninggalkan tandu. Matanya tertuju pada tandu dengan selimut putih. Pak Raffa takut untuk membukanya. Dengan segenap keberanian dan terus berdoa. Dibukanya kain putih itu, terlihatlah jilbab yang masih melekat di kepala, dan wajahnya terlihat. Pak Raffa mengenali jilbab dan wajah itu. Doanya terkabul dapat rezeki banyak, tapi istri tidak bisa menemaninya lagi.*

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerpen: Dambaan Doa Terkabul"

close