Cerpen: Heroik Idul Adha

Ilustrasi Bersama Hewan Kurban



Ibu Saidah memegang pundak suaminya. Suaminya mau meledakkan emosi, kaki-kakinya siap berlari mencari seorang. Sambil mengacungkan tangan tinju, bunyi nafas tidak beraturan menembus rongga-rongga hidung. Di depan rumah jadi tempat mencekam, para remaja yang memberitahu kepala panitia kurban itu, seketika pulang dengan gemetar. “Apa gerangan yang terjadi dengan Pak Aris,” kata tetangga yang melihat.

Siapa yang tidak emosi dengan keadaan di kampung kita yang korupsi, ini bukan sembarang korupsi uang tapi daging kurban? Aku sebagai kepala panitia menjadi tugasku agar semua yang berhak bisa merasakan daging kurban itu. Ia sambil memandang istrinya.

***

Orang berbondong-bondong datang ke lapangan masjid. Para lelaki dengan pakaian putih, berselendang sajadah di bahu, peci tidak lupa dipasang di kepala, minyak harum menyebar hingga udara menyapa senyuman manis. Begitupun para wanita mereka pergi bersama anak, sanak keluarga, berpakaian putih, maupun pakaian hitam. Semua menyambut hari raya Idul Adha.

Takbiran menggema menembus hati perindu ketenangan. Menyambut matahari di pagi hari yang menawarkan kesejukan kebersamaan, saling salam-salaman. Sajadah bersama orangnya tertata rapi menghadap kiblat. Para pemimpin takbiran memecah hening, bunyi-bunyi halus dengan irama khas seperti para qori yang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Semua orang mengikuti untuk menyahut takbiran.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allahu akbar wa lillaahil hamdu 3x.

Allahu akbar kabiira wal hamdulillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi buktrataw wa ashiila. Laa ilaaha illallaahu wa laa na’budu illaa iyyaahu mukhlishiina lahud diina wa lau karihal kaafiruun. Laa ilaaha illallaahu wahdahu, shadaqa wa’dahu, wa nasara ‘abdahu, wa a’azza jundahu wa hazamal ahzaana wahdahu. La ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allahu akbar wa lillaahil hamdu.


***

Setelah selesai shalat Idul Adha, para muslimin mendengarkan khutbah. Khatib bergamis putih, berpeci putih dililit surban putih di kepalanya, wajah memancarkan ketenangan. Khatib melangkah menaiki tangga-tangga mimbar, menghadap para jamaah shalat Idul Adha, tangan kiri memegang tongkat, dan lembaran kertas di tangan kanan. Khatib menyampaikan khotbahnya. Gema takbir sebagai awal bermula penuh lantunan merdu. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allahu akbar wa lillaahil hamdu.

“Awal mula perintah kurban. Sebagaimana diceritakan orang-orang terdahulu, suatu malam Nabi Ibrahim memperoleh mimpi berulang kali, yang mana mimpi itu Allah memerintahkan ia untuk menyembelih Ismail sebagai bentuk kurban,” khatib membacakan isi khutbah dengan suara yang jelas.

“Bayangkanlah engkau memiliki anak dengan posisi sebagai seorang ayah. Lantas Ibrahim bimbang untuk melakukan perintah-Nya. Ia langsung menceritakan mimpi itu kepada Ismail. Putranya mendukung dengan keyakinan dan keikhlasan untuk sang ayah memenuhi kurban dari perintah Allah,” sesekali khatib membaca, lalu melihat para jamaah.

“Matahari memancar sinarnya, gunung-gunung batu kokoh berdiri dari angin was-was yang tidak baik. Nabi Ibrahim naik ke Jabal Kurban untuk menunaikan perintah itu. Keajaiban muncul, pisau mengkilap menandakan tajam sudah berkali-kali ke leher Ismail, namun tetap tidak melukai. Lalu Allah menurunkan wahyu untuk menghentikan tindakan Nabi Ibrahim kepada Ismail. Sebagai gantinya Allah menyediakan seekor domba di tempat itu. Marilah kita ambil hikmah dari peristiwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ini. Kurban sebagai bentuk ketaatan Nabi Ibrahim kepada perintah Allah SWT, sekaligus bentuk baktinya seorang putra yaitu Nabi Ismail kepada orang tua,” khutbah ditutup oleh khatib.

***



Jiwa-jiwa yang tulus dari Pak Aris memandu kerbau dan kambing mulai dari membersihkan hingga memberi makan seakan sia-sia. Seorang remaja perempuan datang menghampiri Pak Aris “Bagaimana bapak sebagai ketua panitia kurban, jika terdapat warganya tidak dapat kebagian daging kurban? Korupsi menjalar hingga ke daging kurban?

“Aku akan menuntaskan masalah itu, apabila terdapat pembagian kurban yang tidak merata. Siap terjun langsung mencari, menemukan, hingga tertangkap pelakunya,” Pak Aris berusaha optimis memberi tanggapan remaja perempuan itu.

Sebenarnya Pak Aris mulai malam hari raya, ia tidak lama tidurnya sebab acara takbiran di masjid hingga larut malam. Belum lagi paginya, setelah salat shubuh langsung bergegas menyiapkan tikar di lapangan masjid untuk melakukan salat Idul Adha. Siangnya disibukkan dari mengurus penyembelihan hewan-hewan kurban, dari memotong, membersihkan, menimbang daging, lalu dagang itu dibuat dalam kantong plastik.

Warga desa bisa memahami kenapa Pak Aris begitu marah. Rasa lelah bergelut sebagai kepala panitia kurban. Kini bercampur kecewa dan kurang tidur menanggapi pembicaraan waktu itu. “Apabila benar yang dikatakan remaja perempuan itu, aku harus bergegas ke rumah-rumah warga,” sewaktu duduk di tempat tenda pembagian hewan kurban. “Aku tidak jeli melihat orang yang datang sambil menunjukkan kupon pengambilan, dua jam yang lewat, kina habis sudah kantong berisi daging,” katanya Pak Asir kepada anggota panitia kurban.

“Hanya ada satu cara untuk kita memastikan daging kurban itu, Pak,” istrinya memberi solusi. “Apa itu sayang, akan aku usahakan,” ia mengerutkan keningnya, lalu memegang tangan istrinya di dalam rumah. “Kita harus berjalan, mengunjungi satu per satu rumah warga hingga tuntas,” istrinya tersenyum dengan ide yang diutarakan. “Baiklah kalau begitu, kita lakukan ini demi daging kurban, eh, eh demi keadilan pembagian dagingnya.”

Sambil membawa timbangan dalam kantong plastik besar yang dijinjing. Pak Asir dan Bu Saidah mengunjungi rumah-rumah warga. Menimbang ulang daging yang telah dibagikan. Menolak ketidakadilan, menghadirkan pembagian sama rata. Pak Asir menunda jadwal terapi ke dr. Izhar, semuanya demi tanggung jawab dan harga dirinya. Memasuki rumah penerima daging kurban, beberapa daging itu sudah jadi bakso, sate, daging masak habang, hingga daging masak bom khas Banjar aromanya keciuman hingga perut keroncongan.

Para warga desa percaya dengan langkah yang diambil Pak Asir. Waspada terhadap korupsi yang merajalela, berita korupsi begitu tersebar di televisi, media sosial. “Maka tindakan aku dan istriku ke rumah kalian sebagai waspada korupsi daging kurban,” Pak Asir duduk sambil menyantap hidangan daging sate kambing di rumah warga.

***



“Silangkan berbaring saya akan periksa bapak, Alhamdulillah keadaan badan Pak Aris mulai membaik,” suara dr. Izhar di ruangan praktiknya.

Lembar berisi keterangan laporan kesehatan dari darah normal, tidak ada kolesterol, asam urat perlahan mulai sembuh, begitu pun gula darah juga baik. Bagaikan debu di kaca jendela dibersihkan, terhapus segala kotoran yang melekat. Lembaran hasil pemeriksaan itu menjadi kebahagiaan bagi Pak Aris di usia yang tidak muda lagi. Setelah melewati hari Idul Adha yang menguras tubuhnya, kesabaran dalam menghadapi isu korupsi daging kurban.



Sebenarnya Pak Asir diberi saran oleh dokter untuk rajin berolahraga. Secara tidak langsung Pak Asir berjalan ke rumah-rumah warga untuk memastikan daging kurban sesuai dengan pembagiannya. Yang paling berkesan di hati Pak Asir, ada adegan heroik ketika membawa timbangan bersama istrinya, sebagai penyelamat warga yang tidak merasakan daging kurban. Mungkin itulah salah satunya membuat ia menjadi tambah sehat dari hasil pemeriksaan dokter. Tidurnya di malam hari terasa nyenyak, sebelumnya ia tidur tidak karuan karena sakit persendian kaki.

Pak Asir dan Bu Saidah dengan wajah tersenyum manis seperti pengantin di masa muda dulu. Dengan kaki mengalun riang, mereka meninggalkan klinik sang dokter.*

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerpen: Heroik Idul Adha"

close