Cerpen: Dompetmu Menebal
![]() |
| Ilustrasi Dompet |
Pak Jauhar datang ke desa kami lima tahun yang lalu, tidak ada satu pun yang menaruh curiga padanya. Pria itu dengan perawakan sedang, kulit legam, mata lebar, rambutnya sedikit memutih. Ia kemana-mana selalu membawa tas selempang, bertopi hitam, dan memegang buku catatan tebal, semacam catatan pelanggannya. Senyum manis menjadi ciri khasnya setiap berjumpa dengan orang yang memiliki uang. Iya uang, siapa yang tidak suka?
Warga setempat mengira ia pria yang suka merantau. Barangkali singgah di Desa Aman sedang mencari pekerjaan atau mencari-cari jati diri yang hilang akibat persoalan di kampung halamannya. Sejak awal ia menginjakkan kaki di desa seolah terbentuk suatu hal yang tidak biasa. Memiliki pandangan yang lembut, jernih, ketika suaranya keluar seperti kata-kata yang mengandung kedalaman jiwa, ditambah pengalaman yang luar biasa.
Sebuah kos milik Pak Lamri yang ia sewa. Meski beratap seng yang warnanya mulai kecoklatan, papan dinding yang mulai rapuh. Ia tetap betah untuk sekedar berteduh dari cuaca dan hewan yang imut-imut, ia tidak suka dengan kucing. Katanya alergi dengan bulunya. Dua bulan awal kedatangan, ia mulai dikenal dari berbagai usia, dari anak-anak yang suka mendengar cerita, petuah setiap sore hari. Begitu pun orang tua berdatangan untuk membeli ramuan dari rempah-rempah tradisional, akar, dedaunan, dan lainnya.
Lima bulan setelah menetap di Desa Aman, nama Pak Jauhar sudah dikenal warga setempat hingga warga kampung sebelah. Orang-orang datang untuk membeli ramuan kesehatan yang dapat menyembuhkan penyakit sakit pinggang, asam lambung, rematik, sakit kepala, bahkan penyakit gangguan dari alam sebelah. Setidaknya banyak yang sembuh dari pengobatannya itu. Orang-orang yang lemah fisik dan pikiran biasa diatasinya dengan bacaan penawar.
Pak Jauhar sering ke luar desa untuk menyembuhkan. Banyak warga luar yang sembuh dari pengobatannya. Jelas menjadi daya tarik pemikat warga, bahwa dari pengalamannya bisa sembuh berbagai penyakit, kecuali kata dia penyakit menua, semua berubah usia, berubah tubuh, dan daya pikir.
Cara-cara yang memikat Pak Jauhar yang satu ini sungguh menarik perhatian. Ia pertama-tama menyinggung tentang dompet menebal, sedikit ataupun banyak tetap berhasil. Kata Pak Jauhar “Saya perantara para warga untuk memudahkan mendapat hasil yang melimpah tanpa bersusah payah, cukup setorkan saja.”
Kalimat itulah yang membuat orang-orang semakin percaya akan keahliannya. Termasuk saya yang membuat jiwa dipenuhi penasaran. Saya ingin mengetahui, lantas membuktikan langsung kebenaran dari katanya itu. Apakah ia benar-benar bisa melakukan dompet menebal? Atau sekedar menarik perhatian para wanita janda karena ia telah lama ditinggalkan istri. Istri yang dulu sudah kawin dengan suami baru, lebih mapan, lebih ganteng, dan tidak malu-maluin, kata Pak Jauhar sewaktu menjual ramuan pada saya.
Di warung makan, saya bertemu Arifin, ia tetangga saya yang suka membeli produk ramuan sekaligus pendengar setia kisah yang unik. Ia sering mengulang kisah dari Pak Jauhar dengan nada semangat sambil memperagakan, mimik wajah, terkadang dengan bahasa tubuhnya sendiri.
“Pak Jauhar bilang, orang-orang di luar desa ini, suka mendapatkan uang yang melimpah. Berawal sepuluh lembar bertuliskan seratus ribu, bisa menjadi berganda sepuluh kali lipat. Bayangkanlah! Bayangkanlah! Katanya. Kita bisa membeli apa saja yang selama ini terkendala uang. Bisa pergi jalan-jalan, dari desa ke kota. Liburan mau pakai apapun bebas, kapal pesiar, kereta cepat, pesawat. Mata Arifin berbinar menerangkan kepada saya. Ia terpikat sekaligus membayangkan impian di benaknya.
“Bukankah dompet tebal seperti sulap, bisa berubah-ubah? Seperti apa itu Arifin? Apa ada caranya?” ketika bertemu di jalan menuju jembatan desa.
“Itu urusan Pak Jauhar, dia bilang kita setorkan saja apa yang dimiliki, khususnya dompet beserta isinya yang mudah digandakan.”
Kisah Arifin begitu meyakinkan kami semua yang berada di jembatan desa, termasuk saya sendiri. Lambat laun kabar itu sudah menyebar ke desa. Orang-orang mulai membicarakan, mereka tidak mengenal posisi berbicara, bisa di rumah, sawah, rumah pertemuan, bahkan kondisi siang, malam, panas, hujan. Burung-burung terbang mengepakkan sayap ke berbagai penjuru. Membawa kabar hangat, kabar cerah bagi orang dilanda keluh kesah.
Malam hening bersama hembusan angin membawa harapan baru. Beberapa warga desa mulai berdatangan dengan sembunyi-sembunyi ke rumah Pak Jauhar. Membawa dompet dan yang berisi uang. Selain itu, membawa kue, maupun kopi panas sekedar untuk menemani pembicaraan tentang kisah yang menggugah jiwa.
Kami membayangkan dompet menebal menjadi miliaran bahkan triliunan seperti tumpukan uang yang sering dipajang di televisi, terpampang tulisan besar yaitu uang hasil korupsi dari kepala daerah, tercatat di administrasi dengan hasil pembangunan proyek yang kurang memuaskan untuk pengguna.
Kata Arifin, aku sudah membayangkan banyak hal kalau dompet menebal. Aku bisa kemanapun yang kuinginkan, membeli motor baru, rumah baru, ingin usaha yang lebih besar lagi dalam berdagang sembako. Di tengah pembicaraan itu, saya hentikan ia bercerita. Apa mungkin Pak Jauhar bisa melakukannya?
“Kalau kalian ingin mendapatkan dompet menebal, saya akan usahakan. Tetapi perlu modal lebih agar uang yang didapat juga banyak,” Pak Jauhar sambil meminum air kopi yang mulai mendingin.
Jumlah yang dimintanya begitu besar untuk kami penuhi. Tanpa pikir lagi, ketika membayangkan semua itu akan diganti dengan dompet menebal. Satu juta per orang, tidak apalah dibandingkan dengan janji yang ia katakan. Bisa-bisa desa ini penuh dengan lembaran uang, hehe.
***
Siang esoknya, desa kami berselimutkan kebahagiaan, senyum indah. Iya walau masih sekilas bayangan. Orang-orang saling ngobrol dengan mata berbinar. Ada yang menjual sepeda motor, ada yang menjual perahu, menjual sawah, ada yang pinjam uang sementara kepada keluarga terdekat. Saya sendiri menjual daging ayam, memang itu pekerjaan saya hehe.
Tiga bulan pertama, tiga puluh juta sudah ada di genggaman Pak Jauhar. Ia lekas-lekas menyimpannya di tempat yang aman. Ia juga membayar orang yang menjadi anak buahnya. Cara ini sekaligus menarik orang yang tidak percaya dan membantu memudahkan pekerjaannya.
***
“Saya sudah berhasil mendapatkan dompet menebal dari Pak Jauhar, Apakah ada yang mau lihat? Ini uang. Awalnya saya berikan kepada Pak Jauhar tiga juta sekarang menjadi tiga puluh juta!” anak buah Pak Jauhar menceritakan kepada mbak yang lewat di apotek terdekat.
“Wah, kamu beruntung Mas, saya belum ada hasilnya dari Pak Jauhar.” Kata Mbak dengan senyum tipis.
Hari silih berganti, dompet yang kami serahkan kepadanya, belum terlihat tanda menebal. Uang sudah habis, pinjaman masih ada. Menjadi geram kepada Pak Jauhar sebab belum bisa mengasih dompet menebal kepada kami.
“Jangan pantang menyerah, kadang hal-hal besar menguji kesabaran kita. Ini pertanda ujian,” katanya sewaktu didemo warga di depan rumah sewaan itu.
Kami percaya dengan kata-katanya yang membuat orang yang hadir merasa yakin. Namun sebagian warga sudah merasa ragu bercampur kecewa dengan sikapnya. Selalu ada alasan untuk menghindar dari pertanyaan warga.
***
Bulan berganti tahun. Suatu dini hari, kabar mengejutkan datang secara tiba-tiba. Pak Jauhar menghilangkan diri. Pintu rumah sewaan terbuka, tidak ada bekas kejahatan, semuanya masih tertata rapi perabotan rumah dari kamar, dapur hingga kamar mandi. Tapi dia menghilang.
Orang-orang kebingungan. Seketika Arifin berubah, matanya memancar kesal, kepala tertunduk lesu, kakinya tidak bisa berdiri seolah pohon tumbang. Ratusan uang warga melayang tanpa kembali, utang masih ada, alat transportasi pribadi tidak ada lagi. Harapan dompet menebal lenyap bersama angin dingin menyelimuti setiap rumah warga.
Saya mengingat kembali kejadian itu. Berawal warga percaya dengan dia dan ingin cepat-cepat dapat uang banyak tanpa usaha yang keras. Kami sebagai warga sendiri merasa dirugikan, ditipu dengan cara yang halus. Saya kira orang seperti Pak Jauhar akan terus ada, ia datang, dalam bentuk bermacam-macam usaha, ditambah bumbu penyedap rasa dengan kata lembut, dan manis. Saya jadi tahu bahwa dompet menebal itu memang benar-benar ada. Dompet kami tidak menebal, tapi “Dompetmu Menebal,” lihat saja Pak Jauhar dompetnya menebal dari hasil pengumpulan dompet semua warga desa.*


0 Response to "Cerpen: Dompetmu Menebal"
Post a Comment