Cerpen: Dilarang Mencintai Parfum

 

Ilustrasi Parfum




“Dilarang Mencintai Parfum” larangan terpampang di depan masuk gerbang desa. Banyak yang tidak mengerti maksud tulisan itu. Warga mulai berkerumun, hanya tertawa sinis, malah mengaitkannya dengan pengalihan isu sembako naik. Kata salah satu warga desa di saat kampanye, tulisan itu salah satu program yang dijalankan Bapak Kepala Desa. Beliau memiliki alergi yang unik, saat mencium parfum badan terasa panas dingin. Dia tidak suka parfum, emosi beliau marah, dan melarang warganya untuk menggunakan parfum. Apapun merek parfumnya, walau dari negeri parfum yang terkenal Arab Saudi, Dubai, Turki, Prancis dan lain sebagainya, bahkan apabila warga ketahuan memakai parfum diminta untuk mandi untuk menghilangkan parfum atau tidak usah menjadi warga desa ini.

Saking tidak sukanya Bapak Kepala Desa dengan parfum hingga beliau pun menghilangkan aroma parfum di kantor, dari ruang tamu, sekretaris, bendahara, ruang aparat, dan ruang beliau sendiri. Ruang yang semula seperti taman-taman bunga harum, yang semula terasa hotel bintang lima berubah menjadi tidak wangi lagi. Beliau membentuk percepatan penanganan anti parfum kepada bawahannya, setiap masuk kantor tidak hanya harus disiplin waktu, pakaian, akhlak, dan tanggung jawab dari tugas yang diberikan, sebelum memasuki harus diperiksa apakah hari ini memakai parfum? Membawa parfum? Setiap hari karyawan diperiksa, ada gunanya juga mengendus seperti kucing hehe.

Akibatnya berpuluh-puluh parfum disita di kantor desa, asalnya berada di meja kerja, meja tamu, dinding-dinding kini hilang bersama baunya. Dimanapun terdapat parfum akan dihilangkan, dimusnahkan dari tempat kerja. Semuanya berganti dengan wangi kue-kue yang dijajakan pedagang, menambah gejolak akan nafsu makanan di kantor. Sejak saat itu keharuman sirna dari wilayah kantor. Bahkan kini merambat yang lebih ekstrem, ada warga yang telah lama tinggal di kampung sejak zaman sebelum ada teknologi hingga berbagai kemajuan sekarang, dia dikeluarkan dari desa gara-gara menjualkan parfum kepada warga desanya. Beliau pernah menjadi kepala desa, disukai banyak orang, dikenal ramah, jujur, setelah pensiun beliau membuka toko parfum. Bagi Bapak Kepala Desa yang baru itu adalah pelanggaran yang jelas di desa ini.

Bapak Kepala Desa bukanlah orang sembarangan, ia putra kedua dari pimpinan kabupaten yang kelak ingin mewarisi antusias sang ayah untuk maju ke pemilihan tingkat daerah. Beliau alumni universitas terkenal dari dalam dan luar negeri, Dr. Iqbal, S.E., Ph.D. sangat cerdas, bergaya, tentunya tidak menyukai parfum.

Dr. Iqbal ialah seorang lelaki yang sangat tegas, disiplin, cerdas, mudah berteman. Komponen yang cocok dalam memimpin desa. Sebagai kepala desa sangat ahli, beliau ahli pembangunan desa banyak proyek-proyek begitu unik, dan memikat siapa pun yang mengunjungi desa. Dari darat jalanan, bangunan. Dari sawah berbagai penguat sistem pertanian seperti bibit-bibit padi, pupuk penumbuh tanaman hingga mesin rontok padi. Semuanya bekerjasama antara kepala desa, aparat desa, dan pemerintah daerah.

Beliau ingin memenuhi keinginan ayahnya untuk memimpin desa. Akan tetapi, kalau sudah berkaitan dengan parfum dia sangat peka, mengencangkan sabuk ikat pinggangnya, seolah menggunakan mata elang dengan cakar mengkilap siap memburu mangsanya hingga tidak luput dari cengkeramannya. Itu saja yang di perhatikan, “Untuk urusan lain kita bisa dengan kompromi, kecuali untuk parfum tidak bisa tawar-menawar.” Itulah kata-katanya dengan tegas kepada aparat desa dan warganya.

***



Rian salah satu pemuda kampung. Ia pulang setelah kuliah di provinsi. Lulusan manajemen desa, lama tidak pulang kampung, hanya ketika libur semester atau ada acara keluarga itu pun tidak berapa lama ia harus kembali ke kampus. Setelah menamatkan kuliah, ia ingin membawa ilmu yang diperoleh bisa bermanfaat untuk desanya.

Sore itu Rian berdiri melihat aliran sungai, kapal kecil, hingga kapal besar sering melintas guna untuk mencari nafkah buat istri dan anak. Angin sore menyusup ke tubuh-tubuh yang tegap itu. Sesekali memandangi awan dan aktivitas kembalinya orang ke rumah masing-masing.

Assalamualaikum Rian, wah kamu sudah pulang, lama tidak berjumpa setelah kian bulan purnama, setelah padi-padi mulai menguning, setelah rindu tidak bisa dipendam lagi” sapa Rosa gadis yang manis.

Waalaikumsalam Rosa, ehem kangen ya? Kamu sudah makin cantik aja dan tambah dewasa lagi.

“Ketika kamu pergi untuk kuliah, aku di sini tetap setia menunggumu, bagaimana suasana di desa kita ini menurut Rian?”

“Sepertinya ada perubahan deh, kulihat warga agak tidak bersemangat dalam beraktivitas sehari-hari.”

Tiba-tiba suara berdering dari ponsel Rosa, “Halo Pak…., iya Rosa akan pulang, sebentar mau ke warung dulu mau beli sayuran bayam, wortel, kecambah, jagung dan lainnya.” Ponselnya di tutup.

“Maaf ya, barusan yang nelpon Bapak, kapan kamu datang ke rumah bukan sekadar silaturrahmi, namun ke jenjang mahligai rumah tangga, mengarungi samudra dengan kapal cinta? Kalau kamu cinta, nanti datang dengan orang tuamu, sampai jumpa aku pamit dulu.”

“Iya nanti kalau memang kita berjodoh Rosa. Hati-hati di jalan, jangan hati ke mana-mana nanti tidak fokus pulangnya. Sampai jumpa.”

Seperti yang di televisi ada adegan dramatis cinta, Rosa dan Aku sama-sama berjalan saling berjauhan menuju tempat tujuan masing-masing, aku sesekali menengok ke belakang melihat badannya yang berjalan mulai jauh, begitupun ia sesekali melirikku. Baru pulang kampung cinta menghadang, ini namanya beruntung. Merantau mendapat ilmu, pulang menambah istri, eh maksudnya istri pertama.

***



Malam harinya Aku di undang rapat dengan warga desa. Rapat kali ini di hadiri oleh banyak orang sekaligus menyambut syukuran atas aku yang sudah lulus dari universitas di kota. Banyak juga teman-teman yang lain sekolah di kota, namun berbeda jurusan, ada keguruan, ekonomi, hakim, dan lainnya. Warga ingin menyuarakan sesuatu pada malam nanti setelah shalat Isya.

“Rian ayo masuk kamu sudah di tunggu oleh warga lainnya,” kata tuan rumah. Sebelumnya rumah yang dijadikan rapat kali ini pemiliknya seorang pedagang, menjual berbagai keperluan rumah tangga, istilah di kata warung serba ada, mulai dari makanan sampai alat kecantikan, bahkan parfum, iya parfum yang dijual dengan diam-diam. Teringat saat memasuki kampung dari merantau di pintu gerbang, kata-kata itu bertuliskan “Dilarang Mencintai Parfum.”

“Mari kita membaca doa selamat yang dipimpin oleh Rian langsung, semoga Rian sukses dan bisa membantu masalah yang ada di kampung ini,” kata salah satu warga.

Aamiin….

Mari kita mulai rapat pada malam hari ini. “Jadi seperti ini Rian kami dihadapkan dengan suatu masalah, yang kami kira awalnya lelucon dari Bapak Kepala Desa soal tulisan larangan perihal penggunaan parfum itu, rumah-rumah, tempat ibadah, tempat-tempat umum tidak ada lagi yang berani untuk menggunakan parfum. Dua tahun yang lalu sebelum beliau terpilih kampung terasa segar, harum, sejuk sebab parfum itu menjadi penyemangat kami. Lantas bagaimana solusinya Rian untuk menghadapi permasalahan ini?” kata warga desa yang sehari-harinya bertani.

“Para bapak dan ibu warga desa ini, kita harus melihat situasinya kenapa Bapak Kepala Desa itu melarang kampung kita menggunakan parfum, padahal sekedar parfum sebagai pengharum badan, pengharum ruangan. Apakah beliau mempunyai penyakit alergi parfum? Apakah beliau ada rasa trauma masa lalunya? Apakah beliau menyembunyikan sesuatu?”

“Itu yang jadi perhatian kita sekarang. Cari informasi sebanyak-banyaknya. Awasi beliau dalam berkegiatan, jangan sampai desa kita ini tidak hidup, layu seolah berguguran daun kering. Kita harus bangkit bersama, membangun, memulihkan kejayaan masa lalu. Itu saja yang dapat Rian sarankan dari rapat ini, selebihnya kita mulai bertindak dari sekarang.

***



Seminggu kemudian warga desa memberanikan diri untuk menggunakan parfum. Parfum sedikit demi sedikit sudah mulai digunakan sewaktu di rumah, pergi tempat ibadah. Tersiar juga aroma parfum kepada Bapak Kepala Desa. Beliau marah kepada aparatnya, kepada seluruh warganya, naik pitam sampai-sampai mengamuk di desa.

Bapak Kepala Desa merasakan sesuatu yang membuat pikirannya tidak tenang. “Kenapa ini badanku terasa panas, makan tidak bernafsu, kucing peliharaan tidak terurus. Kacau semua rahasiaku, orang semua sudah tidak mau lagi mendengarkan perintah, mereka sudah berani memakai parfum, parfum itu aku tidak suka.”

Warga desa mulai memperhatikan gelagat Bapak Kepala Desa itu. “Kamu tahu tidak Rian, kata istrinya, dia bilang bapak sakit di rumah, tidak bisa banyak bergerak, sehingga bapak mengambil cuti di kantornya. Percakapan itu sewaktu aku bertemu di warung membeli gula, teh, kopi, susu sebagai stok si suami di rumah, hehe. Entah sakit apa yang diderita beliau,” kata seorang ibu yang lewat di jalanan.

“Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan penyakit dan perihal larangan parfum itu, tidak salah lagi,” terima kasih ibu informasinya.

“Parfum membawa keharuman, menyegarkan pikiran, mengingat kenangan, membuka rindu. Parfum menebarkan semangat dalam melangkah, membuka jiwa-jiwa optimis. Parfum menghapus ketidaknyamanan bau-bau tidak sedap, menyingkirkan kekelaman, bersinar membawa perubahan.” Kata Rian sambil berjalan menuju sawah.

“Ternyata larangan parfum itu sangat berarti buat beliau. Menutupi kebusukan, penguasa yang semenang-menang, tidak memperlihatkan apa yang ditugaskan. Berapa banyak warga desa terbebani akibat peraturan yang hanya menguntungkan diri beliau? Suara warganya yang menuntut keadilan seakan ingin dihilangkan dari desa ini. Kini parfum itu mengingatkan dia akan kezalimannya, begitupun kita teringat kembali untuk bangkit dari kelemahan ini,” Rian menyuarakan kepada warga desa selepas pulang dari melihat pemandangan sawah yang begitu hijau. Padi-padi itu mulai tumbuh dan berisi, diberikan pupuk agar sehat begitu pun kehidupan.

Parfum yang dipakai meledak wanginya memenuhi kampung. Namun Rian teringat kekasihnya, ia ingin meneruskan hubungan bukan sekedar teman, tidak sekedar wanita yang bernaung singgah di hatinya sesaat. Di hatinya ingin membangun rumah tangga yang berhias sutra-sutra cinta, menumbuhkan wangi kebaikan dalam bersama-sama menjalani kehidupan di dunia, ingin melihat anak yang lahir dari rahimnya. “Semakin lama rindu itu merayapi dari mata hingga ke hati, dari rindu sebatas harapan kini menuju kesungguhan, ya kesungguhan berani untuk datang kepada orang tua Rosa,” kata Rian sambil merenung di penghujung malam.

“Ayo, kita bergegas tangkap Bapak Kepala Desa itu, hukum harus ditegakkan dengan seadil-adilnya. Jangan sampai kita lupa lagi, lemah tidak berdaya, jadi bahan kesewenangan dia,” kata pak penjual gorengan.

Warga pun berkumpul, lalu menuju tempat rumah Bapak Kepala Desa itu. Tidak ketinggalan Rian berjalan bersama warga dengan langkah secepat kaki kuda yang siap melangkah dengan gagah dan berani, siap mengambil langkah ketegasan. Sekilas tampak dari kejauhan Rian melihat wanita pujaannya berada di depan rumah itu. Lantas Rian semakin dekat dengan rumah itu, “Kenapa ada Rosa di tempat itu? Apakah ia sama-sama memperjuangkan hak-haknya? Apakah membawa oleh-oleh untuk Bapak Kepala Desa itu? Tak mungkin,” Rian sambil menggelengkan kepala.

“Ananda Rian bapak mau bilang sesuatu kepada kamu, saat kau datang setelah dari kota, namun bapak ada kesibukan di kantor kecamatan,” Kata Paman Rian ketika sudah berada di depan rumah Bapak Kepala Desa.

“Iya tidak apa-apa Pak, mau bilang apa kepada Rian?

“Mau bilang bahwa gadis yang bernama Rosa yang tepat berada di rumah itu adalah anak Bapak Kepala Desa yang membuat peraturan “Dilarang Mencintai Parfum.”

“Loh ternyata Dia?”

Seketika Rian terkejut, badannya lemas, matanya terlihat sayu, membuat ia pingsan.

“Rian…. Rian…. Bangun!” warga berteriak memanggilnya.*

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerpen: Dilarang Mencintai Parfum"

close