Cerpen: Wajahmu Bercahaya

 

Ilustrasi Wanita Bersepeda



Sekilas wajah perempuan itu memiliki wajah yang putih. Ia selalu memakai gaun dan hijab hitam. Berjalan dengan alunan kaki yang mantap. Matanya tidak melirik-lirik. Setiap orang melihatnya terpesona, seolah bidadari yang hadir di bumi. Suaranya halus, sehalus kulitnya bersentuhan dengan terpaan angin di musim mekar. Ada rahasia yang mesti dijaga perempuan itu. “Tugas saya kali ini menemukan sesuatu keanehan, timbul jiwa-jiwa keingintahuan,” batin mulai berpikir.

***


Di teras rumah terdapat seorang wanita, ia menyapu lantai depan bermodal sebuah sapu berbahan plastik, mengibaskan debu-debu kotoran membersihkan dengan rapi. Sesekali ia menoleh ke jalanan. Dari pengamatan saya pada waktu berjalan melewati perumahan di desa. Sepertinya ada yang datang menghampiri saya. “Fata, apakah sudah menemukan bahan yang bagus untuk diserahkan ke kepala detektif ?” tanya Rizal, teman saya. “Ini lagi usaha, saya yakin kamu akan tertarik, setelah saya dapatkan hasilnya nanti.

Kembali lagi ke perempuan itu. Dua minggu yang lalu, perempuan itu pergi ke masjid untuk menghadiri majelis taklim. Mengenakan sepeda motor Vario bersama ibunya. Wajahnya terlihat manis, jika kau melihatnya kamu akan merenung memikirkannya. Ia seorang yang rajin mencari ilmu pengetahuan. Angin menyambut, daun melambai kepada siapapun yang melewatinya, sinar cahaya di sore hari semakin membawa kesejukan.

Kali ini saya harus lebih maksimal lagi mencari, seluk-beluk kesehariannya. Saya pun pulang juga dari majelis. Melewati jalan keramaian warga. Saya memantau dari jarak jauh. Mata-mata yang tidak ingin diketahui, namun ingin menemukan tujuan yang dicari. Ia pulang ke rumah bersama sang ibunya. “Bu, yuk kita pulang ke rumah.

Rumahnya berbahan kayu ulin yang dikenal kuat. Bentuk bangunan khas pedesaan, tidak terlalu besar, cukup sedang. Terpampang di muka rumah plakat bertuliskan rumah Pak RT. “Wah ternyata perempuan itu anak Pak RT, nanti saya akan berkunjung ke rumahnya, sekaligus silaturrahmi.”

***

Malam hari yang tenang, langit bertaburan bintang. Saya menatap bintang itu dengan penuh takjub. Tuhan yang menciptakan bermacam-macam makhluk, di langit, bumi, seluruh alam raya. “Apa yang dilakukan wanita itu di malam begini.” Rahasia itu harus segera saya ketahui, siapa tahu sesuatu yang berharga tidak terbilang nominalnya.

Perputaran waktu membelah sunyi menjadi keramaian. Gelap telah dijemput pagi yang menawarkan kebahagiaan, bagi setiap orang yang merindukan kehadiran kekasih, seolah hari ingin segera pagi menuju ke tujuan dambaan itu. “Bu, aku pamit dulu, ada pekerjaan,” bergegas mengenakan sendal. “Hati-hati di jalan ya, anakku,” Ibu sambil mengasih tangannya yang lembut untuk bersalaman kepada saya.

Berjalan sembari menikmati pemandangan desa. Lalu lintas orang yang sibuk pergi ke tujuan masing-masing, ada yang ke sekolah, kantor, pasar. Semuanya memiliki tujuan, karena mencari rida, menuntut ilmu, maupun mencari nafkah untuk keluarga di rumah. Kaki ini perlahan-lahan melangkah menuju rumah Pak RT. Tidak terasa waktu pukul delapan pagi.

Assalamualaikum, tuk…tuk…” berusaha mengetuk pintu. “Waalaikumsalam, silakan masuk Mas,” kata Pak RT. “Begini Pak, maaf sebelumnya perkenalkan nama saya Fata. Ingin berkenalan sekaligus ada hal yang ingin ditanyakan kepada anak Bapak.” “Baiklah tunggu ya, Bapak panggilkan, Nurul…. Ayo ke sini, ada yang mau ketemu sama kamu.”

Langkah kakinya mengalun bersama wangi ketenangan, menentramkan jiwa yang dilanda risau. Menerbitkan wajah senyum setiap orang yang menemuinya. Ia duduk sambil membawa dua cangkir teh hangat untuk saya dan dia, secangkir kopi untuk Bapak, ditambah kue kering, roti basah, krupuk, dan kacang. Tidak lupa tisu menemani silaturrahmi ini.

***


Setiap hari Nurul selalu berusaha membersihkan diri. Tidak hanya kebiasaan mandi untuk membersihkan badan. Namun, Nurul berusaha menjaga wudu agar tidak lepas dalam kehidupan. Bagi Nurul berwudu menjadi lebih segar, air yang membasahi anggota wudu menambah ketenangan di batin untuk selalu ingat kepada-Nya.

Nurul pernah mendengar pengajian ustadzah sewaktu menghadiri majlis. “Berwudu agar engkau suci, dengan wudu aura kebaikan bercahaya, menghilangkan emosi agar tenang. Berwudu menjadi suatu kesehatan kulit, debu yang menempel maupun kotoran hilang. Sebelum shalat kita diharuskan berwudu, sungguh agama yang dibawa oleh Rasulullah Saw. menjadi rahmat untuk kita semua,” kata ustadzah pada waktu itu.

Teringat itu Nurul lantas melaksanakan dengan sungguh-sungguh. Istilah dikata awal bermula memang agak sulit menerapkan di kehidupan. Nurul berusaha membangkitkan tekad, jika lampu mulai redup, dinyalakan dengan tenaga lebih besar. Nurul suka membaca buku pengetahuan agama maupun buku sastra, buku-buku itu berguna untuk bertumbuh.

Nurul menerapkan wudu walau belum waktu shalat. “Kau ini, sedikit-dikit berwudu, waktu shalat kita masih dua jam lagi,” kata teman Nurul sewaktu kumpul bersama dengan alumni sekolah madrasah. “Bagus kalau kita dalam keadaan suci, wudu terus terjaga dari perbuatan yang dilarang,” Nurul berusaha menjawab dengan senyuman dan nada bicara lembut.

“Kita berwudu bisa menambah cantik, tidak hanya cantik di wajah, cantik hingga ke kalbu. Menjaga dari iri hati, sombong, menggunjing orang lain, marah, itulah diantaranya,” Nurul sambil mengambil kue lalu memakannya dengan tangan kanan ketika kumpul bersama teman.

“Kalau begitu tanpa perawatan yang mahal, ternyata wudu bisa membuat cantik, emm. Kalau begitu aku berusaha untuk menerapkan wudu juga. Siapa tau cantik sepertimu Nurul,” kata salah satu teman wanita Nurul.

“Wudu bisa menjadi terapi kesehatan. Wajah kita walau tidak pakai bedak yang mahal tetap terlihat anggun, segar, aura kebaikan melekat. Begitu pun orang lain yang melihat merasa senang, tentram, dan memandang kita teringat kepada sang pencipta. Sebab Dia yang menciptakan manusia dengan kesempurnaan,” Nurul menanggapi perkataan teman.

***

“Begitulah ceritanya Fata, kenapa saya memperhatikan wudu dalam keseharian. Menjaga wudu amat penting bagi saya, jika saya batal dan tidak mengambil air wudu seolah ada yang hilang dari kebiasaan itu, hati tidak enak. Maka segera mengambil wudu kembali, walau cuaca dingin, di saat kondisi yang tidak bisa ditebak.”

“Terima kasih ya, sudah berbagi ilmunya. Ini menjadi pengetahuan bagi saya,” sambil mempersiapkan diri untuk pamit kepada Pak RT dan Nurul. “Nanti lain waktu ke rumah Bapak kembali ya Nak Fata, siapa tau kamu naksir sama Nurul,” Pak RT berusaha mencairkan suasana. “Ehh Bapak ini malu Nurul.” Ia menundukkan kepala ke bawah.

Setelah ke luar dari rumah Pak RT. Telepon berbunyi di saku celana saya, lantas mengangkatnya yang tertara nama pimpinan detektif. “Saya sudah mendapatkan bahan yang menarik, saya akan membuat laporan tertulisnya, Pak.” “Baiklah Fata, segera kamu kirim kepada saya.”

***

Saya mengetik laporan di rumah ditemani secangkir teh. Malam mulai menyapa, suhu dingin meresap ke tubuh. Bunyi mahkluk yang aktif di malam hari terdengar lirih. Bersamaan hal itu, mulai merangkai kata menjadi kalimat yang menggugah dari penelitian tentang wanita itu. “Saya jadi tau mengenai seorang wajah yang bercahaya, laporan ini akan berguna untuk orang banyak.”

Teringat anak Pak RT, pikiran terus dilanda rindu. Walau pertemuan pertama sejak saat itu, saya menjadi jatuh cinta. Memang pertemuan pertama untuk menggali informasi langsung dari sumbernya, ehh dapat juga pujaan hati. Pak RT pun kiranya menangkap wajah saya, bunga-bunga mekar bertaburan kecantikan, meninggalkan jejak wangi yang membekas di benak dua insan yang ditumbuhi tunas cinta.

Alhamdullilah laporan selesai ditulis. Judulnya “Wajahmu Bercahaya” ini berisi tulisan yang bukan sekedar tau, tapi berusaha untuk melakukannya dalam kehidupan. Manfaat wudu yang jarang diketahui orang. Saya pun mengirim kepada pimpinan detektif lewat email. Jika kau penasaran detektif kami ini. Detektif bukan sembarangan detektif, kami berusaha menemukan hal yang dianggap remeh namun memiliki sesuatu yang luar biasa, yang memiliki nilai kebaikan, memunculkan dampak positif dari berbagai peristiwa.

Matahari memancarkan kehangatan setiap pecinta. Menemani kehidupan aktivitas semua orang. Pagi yang masih bertiup dari berbagai penjuru arah mata angin. Saya lihat di web, aplikasi Instagram, dan lainnya. Muncul artikel yang saya tulis, semuanya memposting ulang. Orang-orang menjadi semakin tau dan mulai sedikit demi sedikit memperhatikan wudu. “Semoga melakukan wudu dalam sehari-hari menjadi kebiasaan baik untuk saya dan orang lain,” dalam hati, pandangan tertuju pada jalanan desa yang mulai ramai akan berangkat ke tujuan masing-masing.

Dua bulan setelah laporan selesai, postingan itu tersebar. Pak RT menghubungi saya sewaktu bekerja di kantor detektif, kata Pak RT, “Kapan kamu mau ke rumah Bapak, mau melamar Nurul?” “Nanti ya Pak, saya masih bekerja dan memikirkan nanti untuk urusan rumah tangga, terima kasih Pak.”

Saya buka lagi laporan yang lama itu, saya baca berulang kali. Tergambar sesosok wanita yang menjadi perhatian. Akankah saya melamarnya? Dia wanita yang baik sempurna, tumbuh dari didikan orang tua yang agamis. Katanya sewaktu berkenalan, dia lulusan pondok pesantren. Yang pasti ia mulai terkenal dan membuat saya menjadi jatuh cinta. Minyak wangi bernama Diamond ciri khas airnya berwarna biru dengan aroma segar membasahi tangan hingga menyapu ke pakaian. Saya tatap kembali tulisan itu “Wajahmu Bercahaya.”*

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerpen: Wajahmu Bercahaya"

close