Cerpen: Bunga Pengubah Tenaga
![]() |
| Ilustrasi Wanita Membawa Bunga |
Seorang perempuan muda, penjual bunga. Bergaun panjang, berjilbab biru. Pipinya putih, keningnya seperti ombak menuju pantai, matanya bersinar siap membidik tujuan. Siapapun yang menatapnya menarik hati. Ia penjual bunga-bunga ajaib. Bunga bukan sembarangan bunga, katanya bunga ini spesial bagi orang yang menginginkan perubahan pada dirinya.
“Saya punya barang ajaib, mungkin bapak tertarik untuk membelinya,” wanita itu sambil memancarkan matanya ke sekeliling ruangan, orang lain tidak boleh tahu mengenai percakapan kita.
“Aku berusaha mendengarkan wanita itu dengan penuh perhatian.”
“Saya punya bunga ajaib, ini dapat mengubah bentuk Bapak sesuai keinginan.”
Perasaanku senang mendengar penjelasan si wanita, tanpa banyak pikir. Langsung beli bunga ajaib itu. “Baiklah, saya mau beli, berapa harganya untuk barang yang langka itu?” kata aku sambil memandang bunga itu. “Harganya seratus ribu untuk satu tangkai, ini bunganya Pak.” Wanita itu menyerahkan bunga dan mengambil uang dari Bapak.
Jemarinya yang halus dan kuku berwarna merah terlihat ketika mengeluarkan bunga ajaib dari dalam tas. “Saya jamin Bapak akan bahagia menggunakan bunga ini jika rutin menghirup aromanya.” Aku segera mengambil bunga itu dan mengamatinya, “Apakah bunga ini benar-benar ajaib? Terlihat memang berbeda dengan bunga-bunga yang ada di pasaran,” dalam hati aku.
“Emm, setiap hari minggu selalu ada orang mengasihku bunga, tetapi kali ini berbeda, unik dari bentuknya. Ditambah ada daya pemikat, iya bunga ajaib,” kata Bapak kepada wanita penjual bunga sambil tersenyum.
“Saya akan berikan satu tangkai bunga saja untuk Bapak. Hanya satu, nanti saya akan datang kembali setelah tiga hari. Ingatlah bunga ajaib ini, mengubah sesuai keinginan Bapak, namun jangan lupa perhatikan keluarga Bapak, itu saja pesan saya.”
***
Sebelum lampu-lampu kota yang bersinar terang berganti dengan cahaya matahari yang bersinar, aku sudah melangkah pergi ke kantor. Begitu juga di saat cahaya matahari memanggil malam dan lampu-lampu kota bernyala lagi, aku bersiap pulang ke rumah. Bekerja dengan riang, di saat aku sudah bekerja orang lain masih terlelap dari tidurnya, dan aku pulang di saat orang-orang sudah terlelap lagi.
Bukan karena tuntutan pekerjaan, namun aku tidak mau membuang waktu yang sia-sia. Setiap waktu berharga untuk kehidupan keluarga. Iya aku sering bertemu orang yang tidak dikenal setiap hari. Seolah aku salah satu orang yang tersibuk di bumi ini, ehh di kota ini hehehe.
Tidak mengejar harta. Hanya ingin bertahan di kehidupan modern di kota serba ada. Persaingan ada di mana-mana, tidak hanya di kota, bahkan sudah merambat jaring-jaring sulit itu ke desa. Semua orang memerlukan bahan pangan, bahan sandang, sehingga mereka rela antri berjam-jam untuk melamar kerja di berbagai tempat. Ketika pekerjaan itu hadir di hadapanku lantas tidak menyia-nyiakan, pantang mundur sebelum bertindak. Demi membawa keberhasilan.
Aku memulai karir sebagai penyapu jalanan. Setiap hari menyapu jalanan yang dipenuhi daun-daun baik kering ataupun masih hijau, bahkan sampah sering terlihat di jalanan kota. Debu-debu kecil dan asap kendaraan menjadi teman sehari-hari. Hal itu dilakukan dengan sepenuh cinta, menarik kebahagiaan, menebar ke perbuatan hingga jalanan kota menjadi bersih.
Awalnya memang terasa berat seolah mengangkat beban besi, aku tidak memilih pesimis larut dalam kesedihan. Perlahan-lahan seiring matahari berputar, bulan silih berganti, hingga tahun bertambah, sehingga sudah terbiasa melakukan pekerjaan itu. Sebagai penyapu jalanan. Setiap hari menyusuri jalanan yang masing-masing orang sudah diberi tugas. Sampai-sampai orang dekat rumahnya di jalanan kenal dengan aku. “Assalamualaikum, Pak Azhar, selamat pagi,” seorang Bapak pensiunan menyapa. “Waalaikumsalam, Pagi juga Pak.”
***
Menjadi orang tersibuk buatku tidak masalah, selama dompet mengembang seperti roti berisi daging yang menggugah. Dari tukang sapu jalanan, pengawas, pelatih sapu, dan akhirnya aku di posisi sebagai ketua yang memberi tugas kepada anak buah istilah dikata menjadi ketua tertinggi, sebatas pimpinan tukang sapu, hehehe.
Orang lain memujiku sebab karier yang menanjak tinggi. Yang semula tidak menghiraukan semasa jadi buruh sapu, kini mereka mendekati, tidak henti-hentinya mencariku walau malam sudah menyapa untuk berbaring, dan siang sibuk mengatur pekerjaanku. Waktu bagi mereka lima belas menit penting untuk menemuiku. Kini aku seolah punya kuasa dan berharga atas pertemuan dengan mereka.
Hadirnya seorang istri menambah sempurna di kehidupanku, ia wanita yang baik akhlaknya, lembut tutur katanya, manis dipandang, dan lagi cantik bagai putri dari negeri Turki. Dia istriku bernama Arsa. Kami bertemu di saat aku menjadi tukang sapu jalanan, tiba-tiba Arsa keluar rumah untuk pergi ke pasar. Pertemuan menjadi cinta terasa madu itu, berlanjut hingga jadi ikatan.
***
Arsa adalah pembawa rezeki bagiku. Tanpa membuang waktu, tidak menunggu lama, aku beranikan diri untuk melamarnya. Begitu juga rezeki membawa ke perjalanan karir melesat cepat. Rezeki terus bertambah, begitupun syukur kepada-Nya. Lalu setahun kemudian kami dikarunia seorang putri cantik seperti ibunya.
Kesempurnaan hidup yang aku peroleh ternyata tidak cukup. Aku tidak ingin istri dan anak menderita akibat kekurangan uang. Jangan sampai Aqila anakku menjadi seperti bapaknya pada waktu sebagai tukang sapu, ia harus lebih dariku. Terbesit di hati ingin mengusahakan yang terbaik kepada mereka. “Aku harus mencoba bunga ajaib itu, sayang sekali kalau tidak digunakan,” dalam hati Arman. Ia kemudian mengambil bunga ajaib di dalam tas, lalu menghirup aroma yang begitu manis, menggugah jiwa. Seketika badannya berubah, benih-benih semangat kembali muncul.
Hari-hari aku menjadi semakin tekun dalam bekerja. Arsa sibuk mengurus keperluan rumah dan menemani pertumbuhan Aqila. Terkadang pikiran dipenuhi rasa bersalah ketika aku berangkat kerja untuk meninggalkan Aqila. Aku selalu bergegas melangkah ke luar rumah sebelum dia bangun dan pulang saat dia sudah tertidur. Arsa selalu berusaha menjelaskan kepada Aqila untuk menenangkan. “Bapak bekerja untuk kita, ya Nak, janganlah membenci dia,” sambil mengelus rambut Aqila yang hitam dan panjang di ruang makan. “Iya Aqila mengerti Ibu.”
Waktu libur di akhir pekan, aku berusaha meluangkan waktu untuk hadir bersama keluarga kecilku, membawa ke tempat pameran maupun taman-taman bunga. Jabatan yang aku emban memiliki kerja yang padat, sehingga tidak bisa berlama-lama dengan istri dan anak. Arsa selalu memahami keadaanku ia menjelaskan kepada Aqila agar tidak mengeluh terhadap bapaknya. Panggilan pekerjaan selalu menguras waktu dan tenaga. Walaupun lelah fisik, aku usahakan tidak ketahuan mereka. “Aku harus mencium bungai ajaib itu lagi!,” sambil meletakkan bunga itu dekat hidung untuk menciumnya. Ajaibnya perubahan itu kembali bereaksi, badan lemas segera sehat. Badan terasa bugar kembali.
***
Seiring dengan perubahan waktu, keinginanku bukan sekedar memenuhi kebutuhan. Tetapi ingin mengecap jabatan-jabatan yang tinggi di kantor Penataan dan Kebersihan Jalanan Kota. Maka, aku mencapai puncak jabatan itu, tentunya ada dorongan istriku. “Tingkatkan lagi posisi di kantor, sayang.” “Baiklah, kalau itu yang terbaik untuk hidup kita dan Aqila, sayang.”
Pekerjaan yang banyak, membuat aku sering pulang malam, bahkan beberapa hari kerja lembur di kantor demi menyelesaikan tugas-tugas yang sudah ada di meja. Sehingga membuat aku semakin terikat dengan pekerjaan dan melupakan keluarga yang disayangi. Kini putri kecilku sudah menjadi seorang remaja yang cantik dan pintar.
Berusaha menuruti keinginan Aqila, apapun yang ia minta akan aku kasih. Namun, waktu kebersamaan kami tidak ada. Aqila ingin mengajakku untuk jalan-jalan ke luar daerah karena ada waktu liburan sekolah. Tetapi lagi-lagi pekerjaan memanggil, seperti sopir kantor, “Bapak, ayo berangkat kita hari ini ada pertemuan bersama gubernur dan beberapa pimpinan perusahan di bidang barang dan jasa.”
***
Sebelum berangkat bekerja isriku berbicara katanya Aqila protes. “Memang kenapa Bapak, selalu di kejar-kejar dengan pekerjaan, Bu?
“Aqila, anakku yang ibu sayangi, Bapak tidak ingin hidup kita susah, mau ke mana-mana nanti kita bisa mudah, mau beli apa segera terwujud,” dengan suara lembut untuk memberi pemahaman dan kesabaran kepada Aqila.
“Hidup kita sekarang sudah cukup Bu, apa yang diberikan oleh Bapak membuatku sudah bahagia. Kita tidak kesulitan makan, memiliki tempat berteduh yang layak. “Apa susahnya Bapak bersenang-senang dengan kita satu hari saja,” dengan menitikkan air mata, berubah menjadi hujan gerimis di pipinya.
“Aku berusaha menenangkan dan mengusap rambutnya, Aku juga bilang kepada Aqila nanti Bapak akan meluangkan waktunya untuk kita, begitulah Mas ceritanya.”
***
“Bapak sudah menghirup aroma bunga ajaib itu?” perempuan penjual bunga ajaib datang kembali ke ruanganku. Kini ia melihat keadaanku sekarang. “Iya sudah, kini bunga ajaib itu sudah layu,” dengan anggukan kepala yang pelan.
“Bagaimana rasanya setelah mencium bunga itu, Pak?” Ia bertanya-tanya dengan seksama.
“Rasanya segar, tubuh lesu menjadi bugar, menjadi vitamin yang baik bagi jiwa sehingga semangat dalam melakukan aktivitas, Mbak.”
“Hari ini bunga sudah layu dan tidak berfungsi lagi. Seluruh badanku terasa sakit, penampilan juga berubah tidak semuda lagi. Apakah saya masih bisa membeli bunga ajaib itu, Mbak?”
“Saya hari ini mengecek keajaiban bunga itu, tidak membawa bunganya. Nanti besok hari saya akan berikan kepada Bapak.”
“Baiklah, aku tunggu besok di ruangan ini. Sebelum kamu pergi siapa namamu?” Aku bertanya perihal nama kepadanya. “Itu tidak penting, yang penting Bapak tahu besok saya akan bawakan bunga ajab,” sambil melangkahkan kaki keluar meninggalkan ruangan berpendingin itu.
Perempuan itu menutup pintu dengan perlahan. Tidak apalah aku tidak mengenal namanya, yang terpenting masih mengingat wajahnya dan bisa mendapatkan bunga ajaib kembali.
***
Setelah lama tidak berjumpa di rumah, aku teringat dengan istri dan anakku. “Kapan saya bisa bertemu dengan keluarga saya, Mbak,” bertanya kepada wanita yang bertugas di ruangan penuh dengan berbagai peralatan medis.
“Sebentar lagi ia akan datang, tunggulah sebentar, Pak,” ia berusaha mengajak berbicara dengan lembut, sambil menyuapiku makan seporsi bubur hangat.
Kata penjual bunga ajaib, ia akan datang hari ini. Aku tunggu-tunggu tidak ada yang muncul. Apakah penjual bunga ajaib itu menghilang? Apakah ia tidak mau lagi menjual bunga itu kepadaku? Banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepada dia.
“Bapak….” Lamunan itu hilang berganti panggilan suara yang aku kenali.
Samar-samar suaranya lembut menyapa. Mengalun menembus ruangan putih. Aku memalingkan tubuhku, kemudian melihat tubuhnya yang aku kenali sosoknya.
“Bapak…. Ini aku Aqila,” ia berhadapan dengan aku, matanya berair.
“Aku tidak mengenalmu. Kamu bukan Aqila anakku. Ia masih remaja. Bukan seorang perempuan muda yang begitu cantik. Kamu bukan anakku…. Kamu bukan anakku.”
Berusaha mengingat-ingat kembali tentang kejadian-kejadian yang lewat. Aku kerahkan daya ingatan yang tersimpan lewat mata hingga ke hati. Tibalah aku mengenali wanita yang di hadapkan ini.
“Apakah kamu membawa bunga ajaib itu, pengubah tenaga dan awet mudaku, Mbak?”*


0 Response to "Cerpen: Bunga Pengubah Tenaga"
Post a Comment