Cerpen: Tangan Berbisik
![]() |
| Ilustrasi Wanita |
Seseorang menuju kota tidak punya mulut. Di bawah hidungnya yang lancip tidak ditemukan sepasang bibir tempat keluar suara. Saya heran apakah ia punya gigi yang rapi dan lidah di dalamnya. Dalam keadaan itu, ia menimbulkan suatu kejanggalan di tengah masyarakat kota. Warga mempersoalkan kehadirannya yang tiba-tiba. Apakah dia seorang makhluk bumi yang cantik, anggun, atau menyeramkan.
Sepasang mata berbentuk bulat, diteruskan alis mata yang halus seperti bulan sabit halus. Kulitnya putih dan lembut. Seluruh perawakan dari wajah maupun tubuh sebagian orang menganggap cantik sekali. Seolah mempesona bagi orang yang menyukainya.
Terjadinya pro dan kontra antara penyuka dan pembenci. Nyaris menimbulkan keributan ada yang membela, ada yang menjauhi wanita itu. Berita terbaru bermunculan, untunglah bagi penjual harga bahan bakar kendaraan berwarna biru itu menaik, sehingga orang banyak beralih ke bahan bakar berwarna hijau. Berbagai kebutuhan rumah tangga menjadi ikut naik. Barang-barang tidak lagi dengan harga murah di pasaran, katanya dampak dari bahan bakar itu.
Kami warga kota tidak lagi membicarakan wanita yang tidak bermulut itu. Seiring waktu berjalan, kami mulai terbiasa dengan kehadirannya di lingkungan. Ia sudah dianggap sebagai warga di kehidupan penuh berbagai perjuangan ini. Orang lain tidak ada lagi merasa terganggu, tidak ada lagi pihak yang menyukai ataupun membenci. Apabila dia tidak muncul di jalan begitu lama, kami justru merasa perlu mengetahui keadaannya, apakah dia pergi ke suatu tempat atau sakit?
Kami orang desa yang merantau ke kota, rasa kekeluargaan masih ada. Saling memberi, saling mengetahui keadaan sekitar tempat hunian. Dengan membantu dia, apapun keperluan yang diinginkannya.
Tapi suatu hari datanglah awan hitam, angin ribut yang menghantam keheningan di kedamaian warga kami. Di saat para petugas kota berseragam lengkap dengan atribut kegagahan, mereka tidak menyukai kehadiran wanita tanpa mulut. Tiba-tiba gelombang bunyi dari suara begitu keras menyerukan bahaya. Tangkap wanita itu, membuat orang di sekitar banyak menatap, para bapak yang berangkat kerja, anak-anak siap memasuki gerbang sekolah, semuanya tertuju pada aksi itu.
“Tangkap, jangan sampai lepas.”
Para petugas merasa berkuasa di wilayahnya. Petugas itu langsung membekuk tangannya di saat wanita itu berjalan di taman kota. Lalu wanita itu dibawa dengan paksa untuk diamankan kepada pihak yang berwajib.
Saya mengiringi petugas itu ke kantor. Sesampainya di kantor. “Apa kamu tidak memiliki mulut?” Teriak petugas dengan nafas yang berhembus cepat, matanya membesar, suaranya dengan nada bergelora. Saya yakin mereka terkejut dengan keadaan si wanita.
“Di mana mulut kamu?”
Wanita itu tidak bisa menjawab, memang dia tidak bersuara karena mulutnya tidak ada. Saya lihat kedua matanya tercengang memandang petugas. Matanya menatap dengan kedip. Kami sebagai keluarga yang hidup berdampingan dengannya sudah mengerti bahwa hanya sebuah tatapan itu. Ia menggunakan tatapan sebagai sebuah interaksi kepada orang lain. Kami sudah mengerti dan terbiasa bergaul sehingga tau maksudnya.
Namun, para petugas itu terus bertanya lagi, tentu mereka tidak bisa mendengar suara. Mereka tidak bisa menangkap terjemahan dari tatapan mata si wanita. Lalu salah satu petugas menanyakan dengan keras, lagi-lagi membuat suasana agak bising dan keadaan si wanita hanya membalas dengan tatapan saja.
Akhirnya petugas bosan bertanya, katanya terpaksa kami harus tahan wanita ini ke penjara. “Demi keamanan dan keselamatan kita semua, wanita ini akan diamankan, sampai jelas mengenai dirinya, kenapa sampai ia tidak memiliki mulut?” Kata petugas sembari membuka pintu penjara.
Esok siangnya saya dan beberapa warga yang memiliki kepedulian kepada wanita berkunjung kembali ke kantor para petugas yang menahannya. “Kami menganggap wanita ini tidak bersalah, tidak membuat orang celaka, kenapa mesti ditahan? Kenapa orang yang tidak memiliki mulut ini begitu semangat bapak petugas menangkapnya? Sedangkan para penipu bangsa yang mudahnya berkeliaran bebas?” Saya berusaha membela wanita itu.
“Tapi para warga menganggap wanita ini baik, kami menganggap ia bersalah. Para warga sudah dikacaukan dengan segala keadaan yang tidak jelas dan tidak normal. Ini suara pertentangan dengan atasan kami.”
“Kami sebenarnya tidak merasa terganggu dari kehadirannya. Meski ia tidak punya mulut, bukan berarti tidak berhak untuk merasakan kebebasan dan memperjuangkan keadilan di negara ini. Ia justru seorang wanita yang baik, bagi kami ia pahlawan.”
Petugas itu tertunduk, lantas kembali menatap kami semua disertai geleng-geleng kepala.
“Para warga sudah salah arti memahami keadaan si wanita. Itulah salahnya, kalian diam-diam membenarkan suatu yang tidak mengenakkan pimpinan kami. Sudah seharusnya kalian bersikap tunduk terhadap peraturan yang berlaku. Ini demi kebaikan bersama. Tanpa harus ada kejadian tanpa mulut, yang rugi kalian.”
“Tapi, Pak. Wanita ini bersikap baik pada kami, silakan saja tanyakan kepada lurah atau sekalian tanya satu-satu kepada seluruh warga kami. Dia tidak membuat kami kecewa, apalagi menyakiti hati dan merugikan di wilayah kami.”
Wanita itu tetap diamankan oleh petugas.
Kami menganggap itu tindakan di luar kebiasaan. Keputusan yang diambil petugas termasuk salah kaprah, wanita baik malah ditahan, padahal hak bangsa perlu ditunaikan. Apa gunanya dicap sebagai negara demokrasi? Lantas demokrasi itu tidak hadir di tengah permasalahan ekonomi yang kritis.
Kami juga sadar bahwa para petugas itu bukan cerminan petugas sebenarnya. Petugas sebenarnya ialah selalu membantu masyakat untuk membimbing dan memperjuangkan segala keluh-kesah menuju solusi yang tepat. Kami tetap percaya masih ada orang yang memiliki jiwa yang hidup, menyuarakan inspirasi, namun perlu dukungan bersama dalam bertindak.
Dua tahun kemudian wanita itu hadir kembali.
Saya terkejut. Kini ia sudah mempunyai mulut, berisi gigi-gigi yang berseri, dan sepasang bibir yang anggun. Kalau ia berbicara terlihat lidah yang agak kemerahan. Persis ia seperti kebanyakan manusia. Ia bercerita dengan panjang dan lancar. Suaranya terdengar merdu seolah wanita itu kembali memiliki semangat hidup. Ia menjelaskan bagaimana memperoleh lagi mulutnya.
“Kini saya memiliki mulut, sama seperti kamu dan warga yang ada di sini. Saya tidak minder lagi ketika bergaul dengan orang lain. Bahkan mulut saya ini kembali terlatih untuk suatu keahlian yang pada saat itu dikecam oleh petugas yang semena-mena. Bahkan bisa bercerita dengan alunan menghibur dan suara tetap ke tujuan demokrasi.”
Setelah wanita itu hadir dengan mulutnya. Ia memperjuangkan suara keadilan dengan lantang. Memang ia seorang yang berani mengambil resiko untuk melawan keburukan, menuntaskan kekacauan dari sistem yang berantakan. Sistem yang membuat masyarakat menjadi sengsara, belum lagi kenaikan harga, susahnya mencari penghidupan. Wanita itu mewakili kami sebagai pejuang lintas moral, pendidikan, ekonomi, dan rasa kemanusiaan.
Sebagian pihak ada yang mempermasalahkan sehingga wanita itu dianggap sebagai kasus tindak pencemaran pemerintah dalam mengelola negara. Memang orang yang pulih bisa kembali berbicara, sungguh suatu kebahagiaan. Apalagi dia senang dengan pekerjaan dan rasa simpati yang amat dalam untuk negeri. Dia menjelma menjadi obor di tengah kegelapan.
Wanita itu kembali ditahan oleh petugas.
Dua tahun ditahan. Wanita itu datang tanpa mulut lagi. Seperti biasa kami tetap menerimanya sebagai keluarga kami di hunian kota. Tapi kali ini, kami merasa kasihan melihatnya yang telah berjuang. Ia masih memiliki hidung yang lancip, mata yang bulat, dan kening seperti bulan sabit. Berubahlah menjadi seorang wanita misteri yang memendam rasa di hati, namun kami tahu lewat tatapan matanya.
Meskipun datang bukan seperti dulu lagi. Sinar matanya tetap membawa menuju gerbang perjuangan yang tidak mengenal padam. Sinar mata yang dulunya bersama mulut bersuara memperjuangkan hak warga kini dibungkam. Namun, ia tetap bersikap optimis lewat cara lain menyuarakan keadilan.
Seminggu kemudian. Saya melihat tersiar di media sosial, wanita itu tetap berani lewat tulisan menghibur sekaligus kritik halus. Artikel yang bertebaran, maupun puisi tetap memberi perjuangan, mengajak pembaca terus menyalakan kebenaran. Ada satu kalimat terakhir di tulisannya. “Tangan Berbisik lewat air tulisan yang mengguyur pepohonan untuk terus bertumbuh menyuarakan keadilan.”*


0 Response to "Cerpen: Tangan Berbisik"
Post a Comment