Cerpen: Menghapus Tinta Hujan
![]() |
| Ilustrasi Pria Berpayung di Tengah Hujan |
Siang harinya Pak Dimas melihat tanah-tanah yang mulai nampak dipandang mata. Air-air itu perlahan-lahan meninggalkan tanah. Sawah-sawah yang terendam air, hadir kembali walau masih di ujung air sungai yang menggenang. Perahu masih berlabuh, eceng gondok masih bertebaran menghiasi sawah-sawah miliknya. Dengan prasangka penuh harapan Pak Dimas memandang esok dan hari-hari selanjutnya, tanaman padi bisa tumbuh membawa bulir-bulir beras.
Deburan angin bersama rintik hujan berjatuhan ke bumi. Mengabarkan musim hujan menetap di daerah, hujan ingin berlama-lama. Namun para penduduk ingin segera bercocok tanam. Pak Dimas harus mencari ikan dengan jaring maupun alat perangkap lainnya. Sawah yang tergenang air, bagi Pak Dimas tetap bisa meraih pundi-pundi rupiah. Ia mencari ikan, lantas menjualnya ke warga sekitar. Terkadang mendapatkan ikan satu hingga lima kilogram. Uang yang didapat cukup hari ini dan besok.
Sedangkan di suatu rumah kecil, beratap seng yang sudah mulai kecoklatan, dindingnya dari kayu biasa, jendela kecil, dan pelataran yang tidak begitu besar. Istrinya memandang tempat beras yang mulai menipis, bumbu-bumbu dapur seadanya, begitupun uang belanjaan di kantongnya tinggal dua puluh ribu rupiah. Ia terpaksa memakai minyak jelantah yang telah menghitam, sebab dipakai berulang kali untuk menggoreng ikan asin, tempe, dan tahu. Tanpa sadar kakinya tersandung gelas yang masih berisi air, untunglah kakinya tidak terluka, namun gelas menggelinding jauh.
“Astagfirullah, Aku lupa barusan minum selepas menggoreng di wajan lalu meletakkan gelas itu, karena panasnya bertatap langsung dengan api. Tangannya bergerak untuk mengambil gelas itu. Meletakkan kembali dengan benar. “Ini gara-gara Mas tidak membuatkan rumah yang besar, rumah ini kekecilan. Ruang dapur sekaligus tempat makan.” Gerutu istrinya. Namun apalah daya istrinya menyadari, “Teringat mereka yang tidak lagi punya rumah, bahkan sulitnya untuk mendapatkan makanan. Perang-perang itu menyebabkan semuanya berubah, bangunan kini hancur, orang tua, anak-anak terkena imbasnya.”
***
Pulang dari mencari ikan Pak Dimas berdiri di pintu, “Assalamualaikum.” Sambil membawa ikan-ikan segar di keranjang anyaman. “Waalaikumsalam, gimana hasilnya, Mas?” “Alhamdulillah, lumayan untuk kita makan dan bisa dijual ke orang lain.” Pak Dimas menyerahkan ikan ke istrinya. Air masih mengisi sawah milik Pak Dimas. Ia harus menunggu musim kemarau. Walau sudah berbulan-bulan ia tetap memompa harapan untuk bertanam.
“Silakan mandi, setelah itu kita makan bersama di dapur, Mas.” Istrinya sambil menyiapkan makanan yang telah ia masak. Pak Dimas menuju dapur dibukanya televisi. Baginya berita menjadi topik yang bagus untuk informasi, itu satu-satunya dapat melihat dunia luar. Walau di zaman teknologi handphone sudah berkembang cepat, Pak Dimas masih setia dengan televisi. “Dikabarkan cuaca sekarang masih dilanda hujan, curah hujan tidak menentu mengguyur baik di desa maupun di kota, tetap waspada dan jaga-jaga. Hari ini bisa hujan, mungkin besok tidak. Sedia sebelum hujan, jas hujan, payung, dan jangan lupa jaga kesehatan Anda. Saya dan segenap kru siaran berita undur diri. Seremonial minumlah air putih 2 liter sehari, sampai jumpa.”
Seketika ia meminum air menyegarkan tenggorokan selepas makan. Was-was memenuhi benaknya. Berita itu menjadi pertanda akan cuaca sekarang. Wajah Pak Dimas berubah murung, menunduk ke sisa-sisa makanan dan piring yang telah kosong. Istrinya menangkap wajah suaminya itu. “Sabar ya, Mas. Memang musim hujan masih menyapa, kita dan warga yang berprofesi petani juga mengharapkan musim kemarau.” Istrinya menatap mata suami, begitupun sebaliknya suami memandang istri yang berkerudung abu-abu. “Benar, sabar tidak hanya didengar, diucapkan, tapi dimaknai dalam kehidupan. Terima kasih kau telah menemani saya selama ini.”
Di luar rumah Pak Dimas mendengarkan bunyi-bunyi hujan dan memandang air-air itu berjatuhan mengenai rumah, pepohonan, jalanan, sungai-sungai. Suara hujan dengan halus membawa air kesejukan, menghilangkan debu-debu jalanan beserta kesedihan bagi para pecinta, menyentuh para pengingat agar kembali ke jalan yang lurus. Hujan di sore hari membawa para pejuang keluarga kembali ke rumah masing-masing. Mereka ada yang berjalan kaki, sepeda motor, bermobil. Semuanya tergiring air-air hujan dalam perjalanan pulang.
Secangkir kopi dihidangkan istri tercinta, selepas shalat Isya. Pak Dimas masih memikirkan kemarau, “Kemarau di manakah kau sekarang? Aku rindu kau untuk mampir beberapa bulan di desa kami, aku dan warga mengharapkan berjumpa kemarau. Akankah kau datang dengan tepat waktu atau hujan yang terus mengusirmu hingga kau tidak mau berkunjung ke tanah para petani?” Ia duduk bersandar di dinding rumah. Hujan di malam hari membawa sayup-sayup sunyi bersentuhan dengan lirihnya air hujan yang terus mengguyur bumi.
***
Cuaca masih bersahabat di pagi hari, Pak Dimas berjalan di sekitar rumah, sekaligus ia ingin bertemu teman yang sama bekerja sebagai petani. “Dimas, hujan masih melanda desa kita, sawah kita masih terendam. Kamu masih bisa menghasilkan uang dari mencari ikan, sedangkan aku harus menghemat uang dari penjualan gabah tahun lalu,” kata Pak Raka yang sesekali menggaru kepalanya. “Iya Raka, hujan masih menunjukkan kehadirannya, bisa-bisa kita tidak bisa bercocok tanam. Aku sambil aja mengisi masa di musim hujan gini dengan mencari ikan,” ucap Pak Dimas, matanya memandang Pak Raka.
Musim kemarau dirindu oleh warga. Di desa orang banyak menjadi petani. Menanam padi, sayur-mayur, hingga buah-buahan musiman seperti buah semangka. Pak Dimas duduk bersama teman di halaman rumah milik temannya. Secangkir air teh disuguhkan, sepiring singkong rebus bertaburan gula aren, dan parutan kelapa muda. Ia pun memakannya, “Musim kemarau sangat berarti bagi kita, gabah-gabah yang dijual bisa tahan untuk memenuhi kebutuhan, terkadang menjual sayur, maupun cabe, terong, jagung untuk menambah pemasokan.” “Iya Dimas, mugkin kita tahun ini harus menunggu musim kemarau yang begitu lama. Kita tidak bisa menyalahkan hujan, tanpa hujan bumi akan tandus juga.” Pak Raka membuat suasana menjadi tenang.
“Beruntung bagi mereka yang memiliki lahan yang kering, seperti di pegunungan atau daerah yang kering, tidak seperti daerah rawa di tempat kita ini. Mereka bisa menanam tanpa terhambat daya lahan, hasil tanaman bisa dihargai mahal sebab langka di daerah yang belum bercocok tanam.” Pak Dimas membandingkan keadaan di daerahnya dengan daerah lain. “Benar, mereka untungnya banyak, bisa menjual sayur, bahan pokok lainnya dengan harga tinggi. Sementara kita masih menghadapi musim hujan yang menantikan surutnya air.” Pak Raka meminum teh hangat.
“Seharusnya kita punya usaha yang bisa membantu keluarga kita, walau musim hujan. Tapi apalah daya keinginan tidak sesuai kenyataan, apalah uang tidak cukup untuk modal usaha lain. Enak juga memiliki usaha sampingan seperti membuat roti atau berjualan sembako.” Pak Dimas mengutarakan pikirannya, wajahnya cerah, lalu berubah lesu. “Lagi-lagi kau benar, kita tidak cukup modal untuk usaha lainnya, keinginan istriku juga begitu. Punya penghasilan yang terus menerus.” Pak Raka pun terbawa suasana temannya, ikut sedih juga. Matahari sudah menapakkan sinarnya, walau masih agak sayup terlindung awan-awan putih yang mulai mengumpulkan membentuk awan hitam.
***
Pulang dengan segudang rasa pertemanan yang dipenuhi pikiran pejuang nafkah. Melangkahkan kaki mengayun dengan ketenangan. Pak Dimas memandang aliran sungai. Sungai mengalir bersama eceng gondok, perahu, dan kapal berlalu lalang di lintasan sungai. Aliran sungai masih tinggi airnya. Tiupan angin menyentuh badan Pak Dimas. Angin menyusup hingga ke cakrawala pikiran dan terucap kata di bibirnya, “Aku ingin Menghapus Tinta Hujan agar kemarau datang.”*


0 Response to "Cerpen: Menghapus Tinta Hujan"
Post a Comment