Cerpen: Perempuan di Perpustakaan
![]() |
| Ilustrasi Perempuan di Perpustakaan |
Ketika saya tiba di perpustakaan, seorang perempuan di meja baca memandang saya. Saya balas memandang dengan pandangan sinar lampu, berharap mendapat secuil senyuman.
Dalam tiga detik harapan itu hilang mengembang terbang. Saya merasa matanya tidak hanya memandang saya saja. Namun, melesat menembus bahu-bahu di belakang saya, para pelajar yang asik menjelajah dunia tanpa batas.
Bagaimana pula saya bisa melihat perempuan berhijab anggun itu tersenyum?. Masker putih menutupi hampir seluruh wajahnya. Hanya mata-mata bening dipadu alis yang lancip. Hidung yang indah tidak terlihat, hanya gerakan nafas menghirup oksigen kehidupan.
Ia pun menundukkan pandangan, menenggelamkan suasana sekitar orang yang asik baca buku. Silih berganti para pelajar masuk dan keluar untuk meminjam buku agama, ekonomi, hukum, ilmu pendidikan, buku novel, bahkan hanya sekedar mampir sambil menikmati AC dan wifi gratis.
Jari-jarinya menari menyusuri ketik demi ketik di laptop, sesekali membuka buku-buku yang diambil dari rak perpustakaan. Di meja kayu itu ia menyemai kehidupan penuh warna.
Saya pilih duduk di ujung meja nomor enam dari depan berhadapan dengan perempuan itu, hanya terhalang meja dan kursi yang kosong. Saya ambil buku novel dari rak buku sewaktu masuk pertama ke perpustakaan, lalu saya buka lembaran-lembaran memancarkan kalimat-kalimat berlian. Dari kejauhan saya masih bisa memandang perempuan itu.
Meski dia berselimut kerudung dan mengenakan masker, saya yakin dia perempuan cantik. Gaun dan hijab berwarna abu-abu. Hidung yang mancung terlihat tonjolan di masker. Bibirnya memang tertutup, tapi saya membayangkan ia berhias lipstik sebelum berangkat ke perpustakaan. Memang perempuan cantik tak terdinding, walaupun mengenakan masker bergaya perawat itu, tetap saja memancarkan aura cantik.
Usianya mungkin remaja menjelang dewasa mendadak saya berpikir sama terbayang cerita-cerita novel yang sedang dibaca. Seakan sesosok perempuan novel yang menjelma keluar dari lembar-lembar buku. Berparas wajah putih menyinari kegelapan para lelaki. Seakan bulan purnama menepi di wajahnya.
Dia memakai jaket tipis menutupi gaun abu-abu. Hujan lebat ditambah angin membuat cuaca dingin hingga ke hati. Lalu memakai kaos kaki hitam menambah gaya sopan dan menutup pandangan laki-laki tak bersahabat.
Beberapa menit setiap dia mengakhiri kalimat di laptop, ia mengangkat wajahnya dengan memandang ke depan, segera saya menurunkan wajah dan mata ke buku lagi. Bila ia telah asik kembali dengan laptop dan bukunya, pada saat itu saya pun mengangkat mata memandangnya, merekam setiap gerak geriknya, apakah tokoh di novel bisa muncul di saat ini?
Perempuan yang mengetik di laptopnya. Bagaimanapun ini pemandangan langka, sebab musim-musim tugas yang diberikan guru telah lewat. Sementara orang-orang di sekitar asik dengan bermain ponsel, entah tentang mencari informasi berharga atau penghibur di kala sedih. Apakah dia sedang menulis cerita? puisi? novel?
Saya berdebar-debar membayangkan dia seorang puitis. Mengingat-ingat barangkali ada seseorang penulis dengan berwajah cantik seperti dia. Namun, tidak satu pun saya mengenal di belahan ingatan kepala. Dampak musim dilanda rindu, sekaligus perantau sejati, banyak tersemai para penulis baru.
Setelah setiap lima belas menit, saya mengangkat wajah dari pandangan buku. Melepas penat otot-otot mata yang memandang ketelitian dan kecepatan baca. Sesekali memandangnya dia pun menurunkan wajahnya, begitu pun sebaliknya setiap saya kembali asik membaca kembali dia memandang saya.
Mungkin akan begitu terus kalau tidak ada gerombolan para pelajar datang seperti berkelompok di antara meja kami. Bisa saja mereka mengobrol hasil nilai ujian yang diberikan guru, tapi lebih banyak memainkan ponsel masing-masing.
Mereka menghalangi saya untuk memandang wajah perempuan itu. Saya tidak mungkin tengok sana-sini agar tetap bisa melihat perempuan itu. Nanti menambah kecurigaan orang-orang di sekitar perpustakaan.
Apakah saya harus pindah duduk untuk dari meja ujung ke meja paling dekat dengan dia?. Saya memikirkan dan mengambil napas sejenak untuk mengambil ancang-ancang untuk segera berdiri.
Namun, beberapa saat dia yang duluan berdiri sambil menutup laptop dan bukunya. Ia pun mengambil tas lalu pergi ke meja peminjaman buku. Langkah kakinya mengalun bersama angin-angin dingin. Gaunnya melambaikan perpisahan ke arah saya.
Lantas saya segera beranjak pergi menyusul ke meja peminjaman buku. Bertemu dia dan menyapanya. Setelah selesai kami pun keluar dari pintu utama perpustakaan. Saya segera mengambil sepatu di rak yang khusus laki-kaki dan dia pun ruang khusus untuk rak perempuan.
***
Di halaman parkir kendaraan kami pun berbarengan. “Maaf nona, kamu ngapain barusan di perpustakaan?” tanya saya.
“Sebelumnya perkenalkan nama saya Auliya, saya lagi nulis puisi mas, yang mana mengambil karakteristiknya dari mas.”
“Baiklah nama saya Alif, Wahhh saya jadi bahan puisi-puisi kamu, saya pun barusan membayangkan tokoh-tokoh novel seakan menjelma sepertimu,” wajah saya tersenyum.
Perempuan itu salah tingkah, ia sambil menggerakkan tangan-tangannya ke sana-kemari. Begitu juga wajahnya tiba-tiba memerah bagai bunga mekar memancarkan kecantikan.
Pagi ini walaupun hujan gerimis masih berguguran. Bumi-bumi basah, tanaman menyambut kehijauan. Begitu pun saya terasa hangat, dari benih-benih kejadian yang terlewati yang saling berkaitan. Cinta bersemi di musim hujan, apakah gugur selembut sutra atau jarum menusuk ke rindu?
Tiba-tiba dia mengangkat telepon dan berkata sayang aku akan segera menemuimu di kafe, tunggu aku ya!. Perempuan itu segara berpamitan pada saya sambil menghidupkan sepeda motor bertenaga kereta cepat.
Bisa saja itu suaminya atau tunangannya. Seketika hujan menembus ke relung-relung hati. Pikiran berbunga mekar dan harum kini gugur perlahan-lahan hingga layu. Layu harapan akan pertemuan tanpa janji, hanya bersisa namanya yang melekat di benak.
***
“Mas-mas, bangun!” petugas perpustakaan membangunkan saya.
“Kata pimpinan perpustakaan hari ini mau segera tutup, sebab ada acara di sini nantinya,” lanjut penjelasan dari petugas perpustakaan wanita.
Uhh ternyata saya menjelajah di demensi kisah-kisah romansa dan kehidupan yang tersemai di setiap lembaran-lembaran buku hingga tertidur. Memang benar ternyata membaca buku itu penjelajah dunia, menambah wawasan, memahami bahasa cinta.*


0 Response to "Cerpen: Perempuan di Perpustakaan"
Post a Comment