Cerpen: Kapal Tidak Bernama

 

Ilustrasi Kapal


Kapal berlabuh dari dermaga, jarum jam di dalam kapal menunjukkan angka 14.00 siang. Sehari-semalam saya baru bisa menuntaskan rindu di desa yang dituju. Rindu yang terbang menghinggapi di kepala. Aduhai rindu memecah semanis keindahanmu di perjumpaan itu.

Di antara mesin kapal dan asap yang membumbung hitam. Anak buah kapal menyalakan mesin. Nakhoda sudah berada di ruang kemudi sambil memegang sebatang rokok dan secangkir kopi. Dari tampilannya nakhoda seorang mengarungi arus sungai begitu lihai, tampak wajahnya yang kuat, rambut hitam yang lebat, tanpa kumis sebab hari Jumat sekaligus kapal berangkat setelah shalat Jum’at. Tatapan mata dan bibir yang ramah. Ia bersenandung lagu Rhoma Irama “Kerinduan”, kepada siapa ia merindu? Iya, tentu saja kepada istri mudanya.

Ia bukan nakhoda dalam cerita-cerita dugaan: lelaki yang mudah mampir di perempuan lain di mana kapal singgah, di sana ada pujaan hati. Boleh tentu ia berangkat dari rumah telah mencium kening dan doa sang istri sejati. Mungkin istrinya wanita cantik seperti ratu kerajaan yang setia menunggu sang suami pulang dari perjalanan panjang sehari-semalam.

Sekali bertugas membawa kapal ke Sungai Barito, setidaknya ia berganti dengan nakhoda lain ketika pergantian siang menuju malam hari. Jadi ia bisa tidur melepas penat, menemui rindu di alam mimpi. Itu sebabnya nakhoda tidak boleh full mengemudikan kapal di sepanjang perjalanan karena dapat membahayakan penumpang.

Di kala rindu kepada sang istri, nakhoda mengemudikan sepenuh hati. Hingga hati para penumpang tentram dan tenang karena yakin sang nakhoda bisa mengemudikan kapal dengan serius, dengan kecepatan kapal yang sedang dan sambil meliuk-liuk kapal berirama melalui jalur aliran sungai.

***

Saya duduk di rangkap dua dalam kapal, di bagian depan dekat nakhoda. Saya tidak suka duduk di bagian dalam belakang karena angin sepoi tidak bisa hinggap di tubuh. Duduk di depan sambil memandang alam kehijauan, kapal-kapal kecil yang berlalu lalang. Saya ingin tidur beberapa menit melepas kantuk yang mulai menyerang.

Sebelah saya berbaring lelaki tua berusia sekitar 40 tahun, ah bisa saja lebih muda dari itu. Bunyi mesin yang bergelora dan sedikit angin, ia pun tertidur perlahan-lahan, meninggalkan pemandangan hijau pepohonan di sepanjang aliran sungai yang tidak begitu deras. Kepalanya berbantal jaket dan berbaring ke kanan.

Mungkin ia sama dengan saya untuk pulang, naik kapal dengan tujuan menuntaskan rindu, rindu tertanam di hati ketulusan. Bisa saja ia bekerja di sebuah toko-toko besar yang terkenal, lalu pulang sebulan, ataupun setahun sekali karena anak istrinya berjauhan dari kota yakni di kampung. Bilamana pulang ia membawa uang yang banyak untuk membuka senyuman di wajah sang istri dan mengobati rindu.

Di seberang kanan dalam kapal duduk sepasang kekasih laki-laki dan perempuan, lalu bocah cilik yang duduk bersama mereka. Tidak banyak mereka bercerita, selebihnya memandang alam yang tidak ditemukan di kota. Mereka sama dengan saya menuju desa. Saya kira si bocah liburan dari sekolahnya ia ikut untuk menghabiskan liburan bersama keluarga. “Saya sudah rindu dengan kampung mama dan papah,” kata si istrinya.

***

Siang silih berganti malam di perjalanan, kapal melaju lebih kencang di aliran sungai yang tenang. Anak buah kapal menagih ongkos dari haluan depan hingga ke belakang kapal. Kepalanya bertopi, wajah yang ditumbuhi kumis dan hitam. Di bawah cahaya lampu malam, wajahnya menunjukkan goresan-goresan keramahan. Baru saja ia ingin menagih pembayaran dari penumpang, mengalun dari TV depan, lagu lama Rhoma Irama “Kerinduan.”

….

Aku sudah rindu, lincah manja sikapmu, aku sangat rindu, kasih sayang darimu.

Semoga kita dapat bertemu lagi, seperti dahulu, supaya kita dapat bercinta lagi, seperti dahulu.

….

Ponselnya berdering, lalu diambilnya dari celananya, dilihat layarnya, tampak senyum lebar didekatkan ke telinga penuh antusias. “Assalamu’alaikum…. Ya, sayang.… Ini baru sampai di Marabahan.… Pasti dibawakan. Dah…. Wa’alaikumsalam.”

Penelepon itu pasti istrinya, bukan lain-lain. Melalui kata-kata “Abang sayang” sang istri membalas ucapan “I love you,” “saya kangen abang,” bunyi-bunyi semacam itulah terdengar. Seorang penagih pembayaran ongkos berhak bermesra kepada istrinya, bukan? Karena sama-sama bertugas di kapal sehari-semalam juga, jauh dari keluarga untuk mencari nafkah. Ia sudah meninggalkan anak dan istrinya begitu lama. Tahu kan, bagaimana rasanya kasih sayang yang menjelma kepada kerinduan?

Seorang laki-laki muncul dari tangga kapal menuju rangkap dua. Lalu dia berdiri menghadap ke penumpang. Usianya sekitar 30 sampai sekitar 35 tahun. Dari keranjangnya, ia mengambil berwarna kekuningan. Sambil menampilkan wajah senyum manis, walau lelah masih membekas di wajahnya.

“Ini satu kantong plastik berisi buah jeruk, sangat cocok untuk kesehatan menambah vitamin C baik untuk tubuh. Kalau Bapak-bapak dan Ibu-ibu beli buah ini satu-satu, dijamin harganya bisa lebih mahal di atas dua ribu. Berhubung saya mengambil dari kebunnya langsung, saya tawarkan satu kantong plastik berisi 10 buah jeruk cukup lima ribu saja. Maaf, saya akan membagikan satu-satu kantong plastik berisi buah ini. Kalau tertarik, silakan beli. Kalau tidak, barang saya ambil lagi.”

Dibaginya satu kantong itu kepada semua penumpang kapal, kecuali penumpang tidur dan penumpang yang pura-pura mau ke WC kapal bagian belakang.

Setelah membagikan dagangannya kepada penumpang, ia mengucapkan terima kasih kepada yang membeli, disertai ucapan syukur, puji-pujian kepada-Nya, dan mendoakan pembeli semoga mendapatkan rezeki yang melimpah.

***

Lepas dari Marabahan, kapal memasuki aliran sungai yang berliku, senggang, dan tenang. Nakhoda masih sesekali mendengarkan lagu-lagu Rhoma Irama. Ai jangan-jangan nakhoda itu pecinta lagu-lagu yang kaya akan hikmah. Walau zaman sudah berubah, lagu tetap merasuk ke sendi-sendi waktu zaman sekarang.

Namun, tiba-tiba bunyi lagu berubah menjadi keheningan. Apakah nakhoda sengaja untuk menidurkan para penumpang? Beberapa saat kemudian sebelum saya sempat tertidur, deru mesin kapal dan hembusan asap kapal tersamar dengan angin dingin di malam hari.

Di saat tidur telah usai, kondisi badan terasa amat segar. Jam di dalam kapal menunjukkan angka tiga dini hari. Beberapa jam lagi kapal akan tiba di tujuan.

Tak ada suara lain kecuali deru mesin, hewan-hewan yang aktif di malam hari. Kapal melaju lurus di aliran sungai yang mana ada pepohonan lebat dan tanpa rumah. Lingkungan sungai gelap kecuali lampu kapal yang di sorot jauh.

Tunggu pak, kita ada di mana ini? Saya tidak mengenal jalur-jalur ini, yang biasa dilalui adalah aliran sungai yang di sampingnya ramai akan rumah-rumah penduduk. Saya melihat ke penjuru penumpang. Semuanya masih terlelap tidur.

“Pak nakhoda, kita sudah sampai mana?” saya berdiri.

Tidak ada jawaban dari ruang kemudi kapal. Tak ada siapa pun di kursi pengemudi kapal. Kapal melaju kencang dengan sendirinya.

Kulihat tempat nama kapal, ternyata tidak ada. Angin malam semakin mencekam, menusuk ke kulit tubuh ditambah denyut jantung bergetar, tertera di tempat nama hanya bait-bait ini kapal tidak bernama, membawa rindu kalian entah ke mana.*

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerpen: Kapal Tidak Bernama"

close