Cerpen: Qarizha
![]() |
| Ilustrasi Perempuan Duduk |
Di kampung tinggal seorang penyair wanita muda bernama Qarizha. Rumah yang ditempatinya khas rumah pedesaan pedalaman, lumut hijau menumbuhi dinding papan, dikelilingi rumput-rumput tinggi, setinggi harapan. Ia telah lama berhenti menulis di koran dan menjauh dari ingar bingar keramaian.
Qarizha pada pagi hari duduk di serambi rumahnya, meracik dan mencium dedaunan pandan. Setiap semerbak yang khas dari daun pandan, mengingatkan dia saat masa kecil, beduk berbuka puasa, ibu yang menanak nasi, dan kue-kue tradisional. Ia ingin menjadi tubuh seharum pandan, bukan menjadi debu, tanah, tapi wewangian yang membawa kedamaian. “Wangi lebih abadi dari seuntai kata,” kata Qarizha.
Seekor kucing gunung, dengan warna bulu kekuningan, kaki-kakinya yang lincah, mata bersinar menatap sang majikan, kucing itu sering datang menghampiri di depan rumah Qarizha. Kucing itu mengeong, setelah mendengarkan Qarizha membacakan bait-bait puisinya yang mengalun bersama bunyi-bunyi padang rumput. Ia kadang menulis sesuatu di kertas, lalu menaruhnya di tempat si kucing datang.
Keinginan Qarizha dianggap aneh sebab ingin bercinta dengan puisi. Ustadzah Halimah dari kampung sebelah beberapa kali menasihatinya, “Janganlah terlalu mendalam kepada puisi-puisi itu, sedikit-dikit kamu melantunannya kalau tak di rumah, sawah, surau, rumah pengajian wanita.”
Qarizha menatap wanita yang berjilbab anggun itu lama sekali, ia tertunduk menatap rumput-rumput hijau yang sudah dipotong-potong untuk makan hewan ternak. Lalu ia bergegas berjalan setelah konflik dengan ustadzah itu, sambil merenung hanyut dalam kata-kata wanita itu di setapak jalan menuju pasar.
“Aku ingin kembali kepada-Nya, bukan sekadar tubuh yang dilupakan oleh masa-masa yang terus berganti. Aku ingin kembali kepada Dia, sebagai wewangian yang bermanfaat dan mengingatkan,” kata Qarizha di dalam hati.
Qarizha berjalan sendirian menuju pasar, sambil bersuara halus namun jelas. “Aku ingin dikenang harum bukan karena nama, tapi di setiap bait-bait kata. Terkadang makna tidak harus dijelaskan langsung, namun bisa dirasakan, direnungkan agar masuk ke relung-relung jiwa. Seperti aroma manis, seperti puisi kehidupan, seperti doa yang terus dipanjatkan.
Malam harinya, Qarizha bermimpi di padang rerumputan yang tak bertepi. Ia melihat sosok yang berbaju gamis putih, wajahnya bersinar sambil membawa mushaf. Sosok itu berkata, “Tunduklah kepada Tuhan yang Maha Esa, dan ikuti ajaran pesuruh-Nya.” Lalu kata-kata yang terakhir sebelum dia terbangun, “Jadilah harum menebarkan ketenangan, kebaikan, ketentraman bersama daun-daun yang gugur.”
***
Matahari bersinar di pagi harinya, Qarizha duduk lama menatap daun pandan yang telah diperas. Ia mencium aroma itu dengan nyaman. “Ya, pemilik alam semesta ini,” suara lirihnya, “Ampuni dosaku yang kecil, besar, sengaja maupun tidak sengaja. Aku tetap mencintai-Mu dengan berbagai cara.”
Sebelum beranjak pergi meninggalkan dunia ini, ia berpesan untuk merawat manuskrip puisi yang tertulis di lembaran-lembaran kertas tua kepada keponakannya. “Mila, kau satu-satunya keponakan yang mbak sayangi, tolong jaga dan manfaatkan manuskrip itu untuk kemaslahatan,” Qarizha terbaring lemah, matanya sayu, baju lusuh di tempat tidurnya, sesekali ia menyapu air mata yang keluar.
“Kata-kata yang dibaca dan aroma yang khas langsung ke belahan jiwa. Manusia mendengar dan memahami kata demi kata di saat hatinya disentuh oleh orang-orang yang tulus, bahkan tanpa bertatap muka langsung.” Qarizha menuturkan kepada Mila.
***
Setelah Qarizha wafat, Mila menjalankan wasiat dari mbaknya. Ia mencetak ulang hasil manuskrip puisi itu kepada penerbit, baik penerbit lokal, penerbit nasional, bahkan penerbit luar negeri. Orang-orang mulai membaca karyanya dan tersentuh hatinya.
Hari itu, kucing yang biasa menemani Qarizha tidak selincah dulu. Bola matanya bening, berair memancarkan tangis sendu kepergian sang majikan, bulu-bulu seakan melemah dan warna kucing itu memudar, seolah mengikuti arus kejadian yang dialami sang majikan yakni pergi ke dimensi yang lain.
Seorang wanita muda menangis, “Ia membaca bait-bait puisi itu tentang samudra, kapal, dan seseorang yang menunggu di dermaga.”
Seorang mantan pejuang negeri berkata, “Ia mendengar makna-makna ketenangan, kebenaran, kelurusan. Lalu kemudian aku lebih lagi memperhatikan shalat lima waktu.”
Seorang lelaki petani di pegunungan berkata, “Aku mendengar bait-bait, “Sayangi keluarga, sayangi anak, sayangi orang-orang, sayangi alam,” kemudian aku menangis di keheningan malam.”
Berita itu menyebar ke berbagai penjuru. Wartawan datang, bahkan peracik aroma parfum dari Arab dan Turki tak luput dari perhatian. Setiap mereka datang ke kediaman Qarizha, mereka memperhatikan manuskrip itu dan buku-buku yang telah diterbitkan, lalu tertunduk sambil menghirup semerbak wangi yang membekas di hati.
Mila membaca buku puisi mbak Qarizha
Di saat tubuh ini tak menjadi puisi,
Biarlah berubah menjadi wangi,
Agar setiap wangi, engkau mengingatku tanpa sadar,
Di setiap kata berubah aroma pandan-pandan yang menyebar ke penjuru.
Titik-titik air berjatuhan yang keluar dari mata Mila, karena sedih dan bahagia bahwa mbaknya masih dikenal dan masih hidup lewat bait-bait yang ditorehkan lewat hati menuju hati. Angin pun mendengarkan dan membawa bait-bait itu yang harum.*


0 Response to "Cerpen: Qarizha"
Post a Comment