Cerpen: Kacamata Menembus Dimensi

 

Ilustrasi Kacamata Menembus Dimensi



Kacamata menembus dimensi, tulisan itu tertera di kotaknya. Kubuka lagi wadah itu, kacamata itu bersinar, berganggang putih, kacanya putih mengkilap. Setiap melihat ada rasa ingin memakainya seolah ada magnet yang menarik ke wajah hingga berubah gagah. Selembar kertas di dalamnya menambah daya tarik yang memikat.

Aku kacamata, pakailah di saat kau perlu. Ini termasuk barang langka, jagalah dengan sepenuh hati seolah engkau menyayangi kekasihmu. Jangan dibuang apalagi dihancurkan. Bersihkan dari debu-debu yang menempel agar engkau bisa menggunakan dengan keajaiban kacamata ini.

***

Pulang dari bekerja. Pria itu menunggu bus kota yang sering berhenti di halte terdekat. Halte itu sepi karena malam hari orang-orang sudah pulang ke rumah. Kali ini pria itu pulang agak lambat, bekerja sebagai administrasi di suatu perkantoran jasa antar paket. Begitu banyak yang harus diselesaikan. Memakai mata seolah penglihatan mata-mata kucing menatap dan mengetik dengan jeli setiap tulisan-tulisan agar tidak salah alamat.

Duduk di halte menunggu bus kota lewat sambil menunggu membaca buku novel yang menarik hati. Novel memang tebal, halamannya bisa beratus-ratus, sampai-sampai seperti gulungan kabel yang tak putus-putus selalu ada saja bagian yang unik. Membaca tidak bosan, tidak merasa berat, cerita-cerita aneh penuh cinta, misteri, dan konflik antar tokoh, bahkan pada bagian tempat kejadian yang belum pernah dikunjungi seperti keadaan luar negeri, bangunan bersejarah.

Seorang anak laki-laki, mungkin usianya 9 tahun, mendekati lelaki itu, ia menawarkan kacamata kepadanya. Sepertinya anak itu tertuju pada pria yang sedang membaca buku. Sambil mengeluarkan sebuah kacamata, anak itu memberikan kepada tangan pria.

“Maaf Tuan, sebelumnya perkenalkan saya Bayu, kalau Tuan siapa namanya?”

“Nama Aku Arman, iya boleh saya lihat kacamatanya?”

“Ini kacamatanya Tuan Arman, murah meriah, harganya dua puluh lima ribu,” kata anak laki-laki itu.

“Baiklah saya akan beli, ini uangnya ya lima puluh ribu. Kembaliannya untuk kamu saja,” ujar pria itu. “Terima kasih Tuan, semoga kacamatanya bermanfaat ya!” anak itu meninggalkan halte berjalan pulang entah ke mana. Bersamaan dengan itu, bus singgah untuk menghampiri pria itu. “Silakan masuk Tuan,” kata Pak Sopir.

Segera memasuki bus, lalu duduk di bus yang sedang berjalan. Di tatap kembali kacamata itu. Sebenarnya mataku masih sehat, masih bisa membedakan warna, membaca dengan jelas. Tetapi tidak apalah, sambil membantu anak laki-laki itu, mungkin ia sudah berjualan selepas pulang dari sekolah hingga malam ini.

***


Sesampainya di rumah, lelaki itu menyalakan handphone dan merebahkan tubuhnya sebentar dari lelah pekerjaan. Ia mengaktifkan internet, lalu membuka aplikasi Instagram. Tidak ada postingan yang menarik setelah scroll-scroll layar bersinar. Membuka handphone sambil berjalan ke dapur. Memilih minuman air dingin, “Alhamdulillah, segarnya tenggorokan Aku.” Ia teringat akan kacamata yang dibeli dari anak laki-laki di halte.

Arman berjalan ke ruang kamar, ingin mengambil kacamata dari dalam tas kerjanya untuk dikenakan. Keanehan pun menghampiri diri Arman. Ia melihat sebuah tempat kamar yang indah yang belum pernah dilihat. Kamar yang berhiaskan bunga-bunga mekar, warna putih, kuning, merah, jingga, biru, dan hijau. Tertata rapi berbagai perabotan rumah, beberapa produk kecantikan wanita serta barang-barang ketampanan pria.

“Aku berada di ruang mana ini?” Arman bertanya-tanya di benaknya. Kamar siapa ini begitu indahnya dengan segala isinya yang lengkap?

Ketika Arman melepas kecamatannya, seolah pandangan dunia lain kembali ke dunia sekarang. Arman masih tetap berada di kamarnya sendiri. Aneh kenapa kacamata ini bisa ke dimensi lain ya?

Arman meneliti setiap bagian kacamata itu. Kacamata yang bingkainya berwarna putih, kaca yang bening, ada batu permata di tengah dekat hidung. Sesekali mengenakan kacamata kembali, lalu berubah tempat lagi ke dimensi lain. Sesuai apa yang Arman inginkan. Kali ini Arman bukan lagi sebatas kamar, namun ia memusatkan pikiran melihat luar negeri. Seketika Arman berada di Mesir tempat penuh sejarah dan misteri.

Ia berjalan menyusuri kota Mesir dari bangunan tempat tinggal, masjid, sekolah-sekolah, hingga makanan khas Mesir. Seolah bisa mengerti bahasa Arab sebab kacamatanya menunjukkan tulisan-tulisan Arab. Tidak kesulitan dalam berinteraksi. “Wah, lumayan refresing menghibur diri setelah lama bekerja, hehe!” kata Arman.

Puas dengan merasakan suasana di Mesir kini ia menuju Turki. Di Turki Arman tidak jauh berbeda dengan tempat sebelumnya. Mengunjungi berbagai tempat-tempat bersejarah. Salah satunya Hagia Sophia yang dikenal akan sejarahnya, berawal sebagai gereja, lalu berubah masjid setelah penaklukan Ottoman oleh Sultan Mahmed II, berubah lagi jadi museum, dan kini menjadi masjid kembali. Bagi Arman sungguh perjalanan ini membuat ia berdenyut bahagia.

***


Kacamata itu dilepas, ia kembali ke tempat semula. “Menarik kacamata ini, seolah apa yang tidak dijangkau bisa mudah digapai, yang jauh bisa mendekat, tidak tahu menjadi tahu. Aha, bagaimana kalau aku coba melihat aktivitas orang lain?” Arman mulai mencoba. Tapi karena lelah dari penjelajah, ia mencoba esoknya.

Pagi-pagi sekali ia mulai bangun, beruntungnya kali ini hari Minggu, Arman tidak bekerja. Arman memakan sebuah roti berisi coklat. Lalu kembali memasang kacamata pintar itu. “Kali ini berupa tayangan di hadapan, bukan berada di tempat kejadian langsung, bisa kacau kalau aku di sana, hehe.” Sebuah kejadian di pasar, pembeli yang menawar dengan harga tinggi, penjual marah-marah, tidak luput mengurangi takaran. Di teras-teras rumah ibu-ibu menggunjing orang lain, suami dan istri tidak memperdulikan anaknya, bahkan berkelahi dengan istrinya.

Arman tersenyum kecil. Ia bisa melihat kelakuan orang-orang di pasar, rumah-rumah, di tempat umum, tempat olahraga, bahkan sesuatu yang sulit dijangkau seperti masalah pribadi orang lain. Pikiran Arman ke mana-mana, Ia bisa menilai siapa yang sabar, baik, mudah marah, pandai bersiasat, dan segala akhlak masing-masing orang. “Sudahlah cukup aku istirahat dulu,” dilepasnya kacamata pintar itu.

Mendengarkan bunyi langkah kaki, Arman bergegas menuju ruang kamar. Arman menutup dirinya dengan selimut, badannya panas dingin, tubuhnya bergetar. Langkah bunyi kaki berubah menjadi suara-suara halus, suara wanita. “Pergunakanlah kacamata itu dengan baik atau kacamata ini akan lenyap bersamamu,” suara itu samar-samar memenuhi ruang kamar hingga menembus pikiran, Arman pun terbangun dari tidur siangnya.

Sore harinya Arman ingin pergi ke halte lagi. Mencari anak laki-laki penjual kacamata yang ditemuinya kemarin. Sesampainya ia mencari-cari anak itu, namun tidak juga muncul. Sesekali menanyakan kepada orang yang duduk menunggu bus di halte itu. “Apakah mbak melihat anak laki-laki penjual kacamata di sekitar ini? Arman bertanya. “Tidak melihat pak, bahkan tidak bertemu, sebab saya selalu ada di sini setiap pulang dari kerja,” Mbak itu menuturkan kepada Arman. Wajah Arman mengerut, berubah heran.

“Bapak coba lihat tulisan itu,” Mbak sambil menunjukkannya. Arman seketika menatap tulisan di halte, “Dilarang Berjualan di Halte.” Memang benar ada larangan ini. Siapakah anak itu? Bisa berjualan di sini, padahal selalu diawasi kamera pengawas. Ia segera mencek ke pusat kontrol namun tidak ada video yang memperlihatkan Arman sedang membeli kacamata itu.

Kini Arman pulang ke rumah. Duduk di kursi lalu berusaha menatap kacamata itu sekali lagi di atas meja. Suara wanita itu hadir kembali, suaranya memanggil Arman dengan lembut, hingga kencang. Suara itu mengganggu pikirannya. Konsentrasi untuk menyelesaikan beberapa tugas di rumah pecah menjadi tidak karuan.

Mencoba mengenakan kacamata kembali di depan cermin. Melihat sesosok wanita cantik yang berkacamata sedang tersenyum memandang wajah Arman.

“Siapa kamu wahai wanita?”

Wanita itu tersenyum diam dengan wajahnya yang indah memancarkan sinar.

“Kemarilah ke sini, mendekat ke cermin,” kata wanita.

“Jawab siapa kamu sebenarnya,” Arman kembali bertanya dengan suara lantang.

Wanita itu tertawa kecil. Aku akan memberitahu siapa sebenarnya diriku ini, jika kamu mendekat ke cermin ini. Ayo kemarilah Arman, dekatilah aku.

Dilepas kacamata dari wajahnya dan membanting ke luar rumah. Sambil memukul-mukul dengan batu. Awalnya tidak mudah dihancurkan, namun Arman tidak mudah menyerah. Ia terus menghajar kacamata itu, satu persatu dari bingkainya yang hancur, bersisa dua kaca putih. Bingkainya hancur tidak berbentuk. Tidak bisa lagi melihat ruangan lain, menjelajah luar negeri, melihat keadaan di sekitarnya.

Wajah Arman berubah lesu, juga berubah gembira. Lesu tidak bisa melihat sesuatu apa yang diinginkannya. Ia bahagia tidak dihinggapi suara wanita itu yang memanggil namanya, yang ingin mendekat kepadanya. Kejadian itu membuat Arman tidak tenang.

Masih tersisa dua kaca putih, suara itu hadir kembali, “Arman kenalilah dirimu, sebelum engkau mengenali orang lain.” Bersamaan dengan suara itu Arman terperanjat histeris.*

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerpen: Kacamata Menembus Dimensi"

close