Cerpen: Kujadikan Dia Anakku

 

Ilustrasi Suami dan Istri di Ruang Dapur



Sudah dua tahun aku belum punya anak. Kami merindukan anak-anak yang lucu, wajah yang gemas, mata yang memancarkan cinta. Tinggal di kota memang jauh berbeda dengan desa, orang-orang kota sibuk dengan urusan masing-masing, bahkan tetangga rumah tidak bertegur sapa. Berbeda dengan desa, pemandangan alam kehijauan dengan aliran anak sungai, sekaligus masyarakatnya selalu berbaur dengan siapapun tanpa pandang status ekonomi. Anak itu akhirnya kami nantikan juga, “Mas akan jadi ayah dan aku akan jadi ibunya.”

***


Sepulang bekerja suamiku, “Akan aku tunjukkan sesuatu padamu. Kita adopsi ya mas?” sambil menyeret tangan suami hingga ke ruang dapur.

“Lihatlah ini, mas,” seruku dengan riang.

Di samping meja makan, di sebelah pintu menghadap ke luar, aku meletakkan anak itu. Kami sangat memerlukan anak, lagi pula anak ini sudah besar lantas tanpa susah payah untuk membersihkan ia pipis, maupun memandikan. Pekerjaanku agak banyak menyebabkan anak ini untuk sama-sama membantu. Ia sangat senang sekali ketika aku menugaskan pekerjaan rumah.

Tanpa banyak bicara ia pun paham dengan sedikit sentuhan halus. “Nak, tolong cuci pakaian mama dan ayah, ya.” Berbagai pakaian dimasukkan, baju, celana, kerudung, selimut, jaket. Ia berputar membasuh semua bagian pakaian yang kotor. Ia tahu mana yang harus didahulukan, senangnya aku. Ia bilas dengan air bening dialirkan bagai aliran sungai, dibuang airnya dari pakaian, ditambahkan sabun pakaian wangi sakura, lalu air-air bersih dimasukkan kembali ke pakaian itu. Cepat sekali membersihkan sabun berubah buih-buih di pakaian.

“Kenapa tidak dulu aja kita punya anak, sayang? Kalau begini membantu meringankan tugas-tugas mu yang super sibuk. Merapikan tempat tidur, memasak dan menyiapkan makanan, mencuci piring, menyapu lantai, membersihkan halaman. Tapi urusan cuci sudah bisa kita serahkan pada anak kita, ia cepat tanggap asal kita bisa menginginkan permintaannya itu, “Tolong belikan aku listrik, sediakan sabun pakaian yang wangi, dan air yang segar,” kata anakku. Suami bercakap denganku, matanya menatap anak itu yang sudah mau membantu.

***

Malam harinya, kami tidur di ranjang yang terbuat dari kayu, beralaskan kasur. Setelah lampu mulai dipadamkan. Aku bergumam dengan lirih, “senang bisa memilikinya, anak yang rajin, penuh pemahaman, kuat melakukan tugas-tugas yang aku berikan, lebih-lebih semua menjadi bersih, semua bisa dicuci dengan cepat olehnya. Kalau bersih kan enak dipandang mata, dicium harum baunya, tidak menimbulkan penyakit. Anakku, oh aku beruntung sekali bisa memilikimu.”

Teringat sebelum kelopak menutup mata dan ingatan masih setengah sadar. Berusaha menahan kantuk, walau lampu sudah dipadamkan. Bayang-bayang kejadian masih tergambar di pikiran. Pagi sebelumnya, aku menemukan anak itu di toko, debu-debu hinggap di tubuhnya. “Kalau kamu adopsi ini anak, boleh-boleh saja. Rawat ia dengan cinta, rawat dengan kasih sayang seperti kau memiliki anak. Mbak punya anak atau belum? Kalau belum anggap ia latihan untuk kau belajar memeliharanya.” Pemiliknya seorang laki-laki yang sudah berumur, ia menyerahkan anak itu dengan senyuman.

Perdebatan itu muncul sebelumnya antara aku dan suami. Aku berusaha menjelaskan anak adopsi itu dengan tenang disertai bunga-bunga pujian. Kalau sudah puji-pujian yang keluar dari mulutku ditambah sedikit gerakan tangan dan wajah sesekali serius, sesekali bercanda. Ia tidak tega melihat aku yang begitu ambisi untuk memiliki anak di rumah ini.

Aku sambil mengelus-elus anak itu dan memandikan agar ia bersih. Suamiku menatap dengan mata tajam, mulutnya keluar kata-kata dakwaan, “Untuk apa kau mengadopsi anak ini? Rumah kita yang beratap seng dan ukuran seperti kos-kosan, cuma aku dan kamu saja berdua. Kalau pakaian kotor masih bisa ditangani olehmu, tidak harus mengadopsi anak.”

“Tapi aku sudah terlanjur mengadopsi anak ini, mas.”

“Apa anak ini tidak bisa dikembalikan ke asalnya?”

“Kata pemiliknya di tokoa, anak ini anggap seperti anak kita. Walau masih tetap usaha untuk memiliki anak, sambil menunggu hamil, aku adopsi dia, mas.”

“Seharusnya kamu diskusi dulu padaku, sayang.”

“Kemarin malam aku sudah bilang ke kamu, tapi kamunya sih sudah tiduran, sehingga ketika aku berbicara kau tidak mendengar.”

“Pandai kamu beralasan. Terserah kamu sajalah, yang mana baiknya. Lagi pula sudah terlanjur adopsi anak ini, kasihan juga kalau terlantar, kepanasan, kehujanan.”

“Sebab itu kamu janganlah marah. Aku yakin anak ini akan berguna nantinya. Aku perlu anak ini dapat meringankan pekerjaan rumah.”

Aku memejamkan mata, selimut wangi hasil cucian anak itu menempel di tubuhku. Menghalau dinginnya malam hari. Suami pun merasakan kelembutan selimutnya.

***



Pagi hari, waktu sarapan memanggil perut yang berbunyi. Di ruang makan terhampar alas makan. Aku memasak kesukaan suamiku, ayam goreng sambal pedas dengan sayur bening. Makanan dan minuman sudah diletakkan di depannya dengan sepenuh cinta, sedikit taburan manis di senyuman pagi. Ia membalas dengan anggukan dan mulai membaca Bismillah, lalu kami sambil makan bersama.

“Setelah makan, akan aku tugaskan ia kembali, Mas.”

“Apa yang kau tugaskan? Jangan membuat ia sakit, ingat perlakukan ia seperti buah hatimu sendiri,” suami menghabiskan sisa-sisa makanan yang ada di jari-jarinya.

“Iya benar, mas. Aku akan memberikan yang ringan-ringan saja, seperti menugaskan mencuci sarung bantal, boneka, kaus kaki, karpet, peci milik Mas, kalau bisa apapun yang ada di rumah ini,” aku tersenyum.

Aku tinggal kasih instruksi dan sedikit sentuhan. Semuanya berjalan lancar, ia pun segera melakukan. Hari ini memang banyak yang dibersihkan. Beberapa hari yang lewat cuaca di kota tidak mendukung, musim hujan telah menjelma dari gerimis membawa guyuran air yang deras. Pulang dan pergi sering bersentuhan dengan aliran hujan mengandung dinginnya alam, oleh karenanya pakaian cepat basah.

Anakku tidak bisa menjemur, bukan tidak kuat mengangkat cucian, melainkan ia tidak bisa, karena tidak sesuai kemampuan. “Biarkan ibu saja menjemur di sinar matahari yang memancarkan kehangatan, menyingsing air-air yang menempel di kelembutan cucian. Bersama angin yang tidak diundang, biarkan matahari menemani cucian kita, Nak,” aku menggantungkan pakaian di belakang rumah, tiang-tiang terpancang bersama tali berwarna biru.

Selama aku adopsi anak, ia selalu mengikuti perintah dan larangan. Tidak sekedar bayang-bayang saja, ia sudah dikatakan berbakti. Terlihat aku kerepotan melakukan tugas-tugas yang begitu banyak. Ia segera menawarkan dengan senyuman manis. “Ibu aku akan membantu membersihkan apapun hari ini, iya walaupun aku masih kecil tenaga sudah cukup kuat untuk melakukan yang lebih berat lagi. Ujung-ujung aku bisa berterima kasih, karena ibu telah mengadopsi.” Ia sambil membersihkan pakaian sampai bersih.

***


Suami pulang dari sekolah setelah tugas mengajar selesai. Baju di awal pagi terlihat rapi, selepas itu pulang terlihat kusut, baju kemeja putih lengan panjang tersingsing dari lengan-lengan yang gagah, celana hitam agak berdebu, namun ia tetap membawa senyum. “Assalamualaikum, sayang, Mas pulang.” Suami meletakkan sepatu hitam di tempatnya. “Waalaikumsalam, iya Mas,” segera aku hampiri dia dengan senyum manis seorang istri.

“Anak itu masih mencuci? Apakah ia sehat-sehat saja?” Suami bertanya, duduk di sofa ruang tamu. “Ia sanggup melakukannya, aku lihat ia masih sehat, tenaga semakin kuat, cepat dalam membersihkan, Mas.” “Coba nanti biar aku cek dia ke belakang, selepas mandi dan berganti pakaian.” Air-air di kamar mandi mengalirkan kesegaran, air dingin melepas kepenatan bekerja. Membersihkan tubuh, meringankan pikiran. Sabun mandi dengan aroma cinta aku pesan lewat layar-layar handphone di toko online.

Beberapa hari ini, ia begitu bersemangat hingga kelelahan. Badannya yang dulu sehat, kini terlihat lesu. Dulu diawal memang bertenaga, bunyi-bunyi riang gembira dengan halus memecah kesunyianku di kala suami pergi bekerja. Tidak peduli berat ataupun ringan ia tetap membantuku dengan segenap cinta dan setulus bakti seorang anak kepada orang tua. Sehat sudah pergi, sakit mulai berdatangan dengan suara lirih ia berucap, “Ibu, aku hari ini tidak bisa bantu-bantu, badanku terasa lemas.”

Kuhubungi dokter untuk mencek kesehatan dan mengobati penyakitnya. Baju hitam berlengan pendek, kacamata minus terpasang olehnya. Jari-jarinya besar, berwajah serius, sesekali ia mengenakan alat-alat perlengkapan untuk kesehatan begitu banyak, lalu berusaha mencari penyakitnya. Aku melihat ia berdiri, memiringkan kepala, bahkan berbaring sambil melihat si sakit. Tangan-tangannya memutar-mutar tubuh anakku, melihat apakah ada luka? Atau ada sesuatu yang sakit di bagian dalam tubuhnya.

“Saya telah mengusahakan semaksimal mungkin, Mbak.” “Dokter, apakah ada kemungkinan anak saya bisa sembuh dari sakitnya?” “Sepertinya harapan itu, hanya Dia yang Maha Mengetahui bisa sehat seperti semula atau masih tetap sakit.” “Terima kasih dokter telah datang untuk mengobatinya.” Aku mengambil uang satu lembar berwarna merah yang bergambar dua tokoh bangsa berpeci dari saku baju.

Semakin hari anakku keadaannya memburuk. Sakitnya kini mulai menimbulkan bunyi-bunyi yang sedih, ia tidak mampu menahan badannya yang menggigil. Aku coba menyentuh badannya yang berbadan putih itu, kini ia pucat. “Maafkan kesalahan saya Bu, jika selama membantu untuk membersihkan apapun di rumah ini. Ibu janganlah sedih, saya bahagia ketika awal menginjakkan kaki di rumah ini. Ibu sangat sayang dengan saya, walau sesekali Ibu marah, itu untuk kebaikan saya agar lebih giat bekerja, mencuci dengan tulus, bekerja dengan cinta agar tidak bosan, dan bersemangat. Terima kasih Ibu.” Aku menyentuh air-air yang mulai mengalir dari mata. Tanganku mengelus ia sambil duduk di sampingnya.

“Sudahlah sayang, janganlah bersedih nanti kita adopsi lagi anak lain.” “Tapi Mas, aku masih teringat ia telah banyak berjasa untuk keluarga kita. Setiap aku perintahkan ia segera menunaikan, tanpa menolak sedikitpun, ia anak yang baik, jujur, tekun, dan lebih-lebih bisa diandalkan. “Biarkan ia tenang di sana, sayang. Aku ikut sedih juga. Memang segalanya akan berpisah sesuai takdir yang dibuat-Nya.”

Tetanggaku berdatangan, baik bapak-bapak maupun ibu-ibu mulai memasuki ruang belakang rumah. “Apa benar anakmu telah mati?” kata ibu yang berkerudung biru. “Iya coba ke sini semuanya, lihatlah anakku sudah mati.” “Kok itu anakmu, bukannya itu mesin cuci pakaian?” Ucap bapak mengenakan peci hitam. Wajah mereka semua terheran-heran setelah melihat anakku.*

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerpen: Kujadikan Dia Anakku"

close