Cerpen: Batas Finish Memanggil
![]() |
| Ilustrasi Mengayuh Jukung |
***
“Arkanza, mari ke sini Nak, kita makan bersama,” kata ayahnya. “Baik, yah, Arkanza akan segera ke dapur.” Sebelumnya ia melihat pemberitahuan tentang lomba yang diadakan kabupaten. Lomba tahun yang lalu memang terdiri dari empat orang, kali ini menambah lomba spesial untuk perorangan untuk satu jukung.
“Saya mau ikut lomba jukung,” ucap Arkanza sehabis menyelesaikan makan bersama. Mendengar perkataan itu ayahnya tidak percaya. Ayah dan ibunya merupakan guru ngaji di kampung. Selain itu, warga desa mengenal mereka berdua dengan ustadz dan ustadzah karena mengisi pengajian di masjid maupun musholla. Arkanza berjalan menuju tempat duduk di ruang tamu.
Wajah ayah dan ibunya tampak heran. Apa yang dikatakan warga sekitar nantinya? Seorang anak ustadz yang terkenal, emm walau terkenal di wilayahnya saja. Jadi pembalap jukung di perlombaan. “Itu cuma lomba saja, Yah, tidak apa-apa kalau anak kita ikut,” istrinya memberitahu suami dengan cara yang halus. Baju gamis dan kopiah sang ayah pun dilepas sambil memandang wajah istrinya. Suasana di meja makan mereka berdua terasa hening.
“Arkanza anak laki-laki, ia sangat memerlukan pengalaman, biarkan saja dia mencoba lomba itu. Hitung-hitung menambah pertemanan dari berbagai desa,” istrinya mencuci piring di dapur. “Baiklah, dia dapat mengasah mentalnya juga, bisa mengetahui baik buruknya perlombaan, lomba jukung mengajarkan arti perjuangan, melawan arus, pantang menyerah mendayung, menjadi pelestarian kebudayaan juga. Jukung sekarang tidak banyak seperti dulu dalam beraktivitas, sekarang orang-orang pergi ke pasar dengan sepeda motor,” ayahnya pun memberi dukungan.
***
Kabar meluas, telinga ke telinga, mulut membawa seuntai kalimat bersama angin pagi hingga menuju angin malam. Arkanza akan menjadi seorang peserta lomba jukung terdengar ke desa-desa. Semua orang yang kenal Arkanza membicarakannya, termasuk acil, paman, tidak ketinggalan teman-temannya, dan para guru di sekolah memberi semangat untuknya. Dukungan baik uang ataupun sekedar ucapan yang menggema-gema ditambah kepalan tangan dibumbui tekad dan tujuan mulia.
Sepulang sekolah Arkanza melakukan latihan. Tempat latihan di aliran sungai, ia harus mengayuh jukung dengan jarak sepuluh meter hingga sembilan belas kali. Terik matahari yang menyapa wajah, tubuh tidak ia hiraukan, bahkan gerimis hujan bersama kawannya yaitu angin selalu menyentuh tubuh Arkanza. Di sisi lain orang melihat dan meledeknya. “Bagaimana mungkin anak sang ustadz menjadi peserta lomba jukung, bukannya tahu ngaji, dan ibadah saja? Anak ustadz itu tidak layak ikut perlombaan ini. Lomba khusus orang-orang yang kuat dan kekar tubuhnya,” kata warga yang duduk di dermaga kapal.
Awan mulai terbentuk, badai dan cahaya selalu bergantian. Banyak sekali pujian yang mendukung Arkanza begitu pun celaan dari orang-orang yang tidak suka. Tapi Arkanza menganggap celaan itu sebagai angin lewat yang berembus jauh melewatinya. Ia hanya perlu fokus latihan dan persiapan lomba. Sewaktu latihan, Arkanza tetap memakai peci hitam, “Saya akan membawa harum keluarga, ayah.”
Jukung-jukung sudah dipersiapkan panitia perlombaan. Jukung berwarna warni yang bercirikan khas daerah dengan motif seperti kain sasirangan. Jukung yang terbuat kayu yang tidak berat agar mudah saat perlombaan. “Kita sudah cek perlengkapan untuk lomba ini. Sebagai antisipasi kejadian yang tidak terduga, kami juga menyediakan ambulan dan layanan kesehatan selama perlombaan berlangsung. Peserta maupun masyarakat bisa memeriksa kesehatan juga,” kata ketua panitia.
Tali beserta umbul-umbul sudah dipasang di garis awal hingga akhir. Jarak kali ini sepuluh meter dengan bolak balik jadi dua puluh meter. Terompet sudah siap ditiupkan, masing-masing sudah berjejer, delapan jukung, dan orangnya. Jukung-jukung berwarna warni seperti pelangi dengan motif sasirangan. Arkanza sudah berada di jukung berwarna hijau.
“Sudah siap semuanya? Silahkan ambil alat dayungnya perlombaan akan dimulai 1, 2, 3. Tooth…., panitia sudah meniupkan terompet. Mereka mengayuh dengan kecepatan masing-masing, aliran sungai diam berubah ombak-ombak kecil. Jukung yang dikendarai Arkanza melaju mendahului satu persatu lawannya. Ia mendengar teriakan ayah, ibu, guru-guru, dan teman-temannya. Memacu semangat Arkanza yang mulai mengeluarkan keringat di wajah dan membasahi peci hitam di kepalanya.
Arkanza mengingat petuah sang guru. Orang bisa pintar dan berhasil karena usaha dengan terus rajin-rajin berlatih, tidak lupa berdoa kepada-Nya. Kita semua milik-Nya, apapun hasilnya yang penting sudah berusaha sekuat kemampuan. Jangan menyerah sebelum melakukan, jangan pesimis di awal namun berilah keyakinan optimis agar diri kita mampu menjalaninya.
***
Satu jam sebelum perlombaan. Rumah Arkanza dekat dengan aliran sungai sehingga mudah melihat orang-orang yang bepergian dengan jukung maupun kapal. “Mereka sudah menunggumu di luar, Nak,” Ayah memberitahu Arkanza. Ia bersiap membawa perlengkapan yang dibutuhkan untuk perlombaan jukung.
Di halaman rumah, kedua orang tuanya memberi restu, dan doa. Tidak lupa Arkanza bersalaman. Temannya sudah menunggu “Ayo Arkanza, jangan sampai kita telat nanti bisa-bisa dikeluarkan dari peserta lomba oleh panitia,” temannya sambil menghidupkan sepeda motor Jupiter MZ. Arkanza memakai pakaian kaos yang sudah di sablon oleh panitia, seperti kaos yang dipakai pemain pancing mania di TV, yang membedakan ada bentuk jukung, lambang kabupaten, tidak lupa sedikit motif sasirangan menjadi ciri khas perlombaan daerah. Arkanza pun melambaikan tangan ke orang tuanya.
Sesampainya di tempat lomba, orang-orang sudah berkumpul banyak. Membuat hati Arkanza berdetak lebih cepat, wajah menjadi pucat. Guru yang mengajari mendayung berusaha untuk memberi dorongan agar Arkanza optimis. “Arkanza dengarkan bapak, kamu jangan gugup. Ambil nafas dari hidung, lalu keluarkan dengan perlahan. Ucapkan Bismillah sebelum kamu memulai, gunakan seluruh tenagamu, teknik-teknik yang telah bapak ajarkan. Usahakan tenaga jangan sampai habis sebelum sampai garis finish, seimbangkan nafas dan daya dayungmu dengan terus menerus. Jangan hiraukan lawan yang di samping, fokus ke depan saja.”
***
Pertandingan awal berjalan sesuai keinginan. Arkanza memasuki final. Ia mulai digemari oleh orang-orang yang suka lomba jukung. Arkanza tidak hanya lihai dalam mengemudikan jukung, ia bisa membaca waktu dan daya kekuatan yang dimiliki. Di saat perlombaan pertama, ia bisa melesat jauh di depan para lawan-lawannya.
Awan-awan putih mulai berkumpul membentuk awan abu-abu, gerimis mulai menyapa para hadirin perlombaan dan peserta di aliran sungai. Setelah berdiskusi antar panitia, perlombaan tetap dilanjutkan karena menurut mereka hujan tidak begitu lebat, angin tidak begitu kencang. Hanya air sungai sedikit bergelombang di sentuh angin-angin. “Semua para peserta dipersilakan untuk menuju jukung masing-masing, perlombaan finalnya akan dimulai,” panitia lomba bersuara dengan lantang walau sudah menggunakan pengeras suara.
Pada final lomba jukung. Arkanza bersaing dengan dua lawannya. Mereka sama-sama merebutkan juara pertama, juara dengan hadiah piala, sertifikat lomba, dan uang tunai yang fantastis. Suara-suara penonton memberi penyemangat kepada para jagoan masing-masing. Nama-nama peserta final bergemuruh. Memang Arkanza di lomba ini sebagai pendatang baru. Lomba jukung tahun sebelumnya ia masih melihat-lihat perlombaan. Tapi kali ini ia yang bertanding, tidak disangka bisa memasuki final. Arkanza menundukkan kepala, mengangkat kedua telapak tangan, ia mulai berdoa.
Aba-aba hitungan sudah disebutkan, terompet pun dibunyikan. Dengan dayung yang penuh kekuatan, ketiga jukung melesat kencang membelah aliran sungai. Arkanza dan perahu berada di sisi kanan dari dua peserta lainnya. Jalur kali ini memang sama, namun cuaca sore sedikit berbeda dengan pagi. Gerimis dan angin menjadi daya ketahanan peserta di perlombaan ini. Beberapa saat ia mulai ketinggalan dari lawannya, sebab tidak ada yang memberi sorak suara, semua orang berteduh di tempat yang kering. Tiba-tiba ia ingat akan semua pendukungnya, ia cepat-cepat mengayuh jukung hingga mampu menyusul lawannya.
Tali beserta umbul-umbul sudah terlihat, ini menandakan batas finish akan segera dilewati. Batas finish itu memanggil-manggil sang juara. Bayang-bayang juara sudah muncul memenuhi pikiran Arkanza. Luput dari penglihatannya, badai, dan angin kencang tiba-tiba tidak bersahabat. Peserta lain tidak berani melanjutkan, mereka menepi. Tetapi Arkanza terus menuju impian itu. Gelombang membesar, jukung yang didayung Arkanza terhempas. Jukung mulai berlenggang-lenggok, keseimbangan jukung tidak stabil.
Arkanza panik dengan keadaan yang tidak terduga. Dia berusaha mendayung lebih cepat, tenaga tangan ia kerahkan. Arkanza menyentuh tali finish terdepan. Bersamaan dengan ombak besar hingga jukungnya karam. Semua penonton melihat peristiwa itu histeris. Arkanza dibawa oleh panitia dan petugas kesehatan menuju rumah sakit. Piala juara pertama lomba jukung di samping Arkanza yang terbaring di rumah sakit. Apakah Arkanza bisa terbangun kembali untuk menatap kemenangannya? Cukup Tuhan yang sebaik-baik rencana untuk makhluknya.*
Catatan:
Jukung: Perahu
Kain Sasirangan: Kain Khas Banjar


0 Response to "Cerpen: Batas Finish Memanggil"
Post a Comment